Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Venus dan Jupiter Terlihat di Bumi

Venus dan Jupiter menampakan dirinya akhir-akhir ini. Posisinya cukup dekat dengan Bumi hingga dapat dilihat dengan mata telanjang, di langit barat pada sore hari. 
Venus tidak pernah jauh dari matahari karena posisinya memang lebih dekat dengan matahari dibanding Bumi. Jupiter, yang berada di luar orbit Bumi, bisa muncul di mana saja di sepanjang ekliptik -- garis edar matahari, bulan, dan planet di langit. Venus dan Jupiter secara gradual saling mendekat, dan diperkirakan akan saling berpapasan pada 13 Maret mendatang.
Sementara itu, Bulan masih menuntaskan peredaran bulanannya mengelilingi Bumi dan akan berpapasan dengan kedua planet pada minggu ini, tepatnya hari Sabtu dan Minggu (25 dan 26 Februari). Bulan tampak dekat dengan Venus pada Sabtu malam dan berada dekat Jupiter pada Minggu malam. Pemandangan langit pada malam-malam tersebut akan tampak seperti apa yang disebut para ahli astronomi sebagai triple conjuction.
Siapa saja yang mengamati langit pada kedua malam tersebut, akan melihat pertunjukan spektakuler terkait seberapa jauh pergerakan bulan dalam satu malam. 
Saat mengamati triple conjuction ini, beri perhatian sungguh-sungguh pada bulan sabit tipis. Jika kita melihat lurus ke atas dan ke sisi kiri bulan sabit, kita akan melihat bagian lain bulan yang tersinari cahaya remang-remang dari Bumi. Dengan teleskop dwikanta (binokuler) atau teleskop kecil kita bisa melihat laut-laut dan kawah-kawah yang biasa disebut "sisi gelap" bulan, yang disinari cahaya bumi.
Penampakan bulan sabit yang seperti itu tidak sering terlihat. Beberapa orang terkejut melihat bentuknya kali ini, karena sudut pandang yang dihasilkan dari orbit dan kaki langit membuat bulan tampak disinari dari bawah, bukan dari samping seperti yang biasa kita lihat di buku-buku pelajaran.
Untuk mengetahui arah sumber pencahayaan bulan, coba visualisasikan letak matahari di bawah kaki langit, dan orientasi bulan akan menjadi jelas.

Sumber: National Geographic Indonesia
Baca pula:

Senin, 27 Februari 2012

Ilmuwan Menumbuhkan Tanaman Berusia 30 ribu Tahun

Ilmuwan asal Rusia berhasil menumbuhkan tanaman yang berasal dari buah membeku yang disimpan oleh tupai 30 ribu tahun lalu. Buah itu ditemukan di tepi sungai Kolmya di Siberia, tempat di mana banyak ditemukan tulang-belulang mammoth.
Adapun tanaman yang berhasil ditumbuhkan oleh peneliti dari Institute of Cell Biophysics itu sendiri merupakan Silene stenophylla, dari keluarga tanaman campion.
Dalam laporannya yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), peneliti menyebutkan bahwa ini merupakan benih tertua yang pernah berhasil ditumbuhkan. Rekor sebelumnya dipegang oleh sebuah benih pohon palm yang tersimpan selama 2.000 tahun di Masada, Israel. Sayang, David Gilichinsky, ketua tim penelitian kali ini wafat beberapa hari sebelum laporannya dipublikasikan.
Meski begitu, Gilichinsky dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka menemukan sekitar 70 lubang hibernasi tupai di sekitar tepi sungai tersebut. "Seluruh lubang ditemukan di kedalaman sekitar 20 sampai 40 meter dari permukaan tanah saat ini dan berada di lapisan yang sama dengan lokasi ditemukannya tulang-tulang mamalia besar seperti mammoth, badak wol, bison, kuda, kijang, hewan, dan tanaman lain dari zaman tersebut," sebut Gilichinsky.
"Tampaknya, fosil-fosil di lubang hibernasi tersebut tetap membeku sejak mereka terkubur dan terus-menerus diterpa udara dingin," sebut Gilichinsky. "Tupai-tupai itu kemungkinan menyimpan cadangan makanan di bagian tertentu dari lubang mereka, yang akhirnya membeku secara permanen,' ucapnya.
Di laboratorium mereka di dekat Moscow, upaya tim peneliti untuk mengecambahkan benih yang sudah matang gagal. Tetapi saat ditanam, benih itu tumbuh menjadi pohon yang sehat, meski sedikit berbeda dengan spesies tanaman yang sama yang ada di masa kini.
“Keberhasilan ini menandakan adanya peluang untuk menghidupkan kembali tanaman yang sudah lama punah dan kita bisa memikirkan untuk menghadirkan kembali mammoth ke dunia nyata. Seperti ide yang ada di film Jurassic Park,” sebut Robin Probert, Head of Conservation and Technology, Millennium Seed Bank, United Kingdom.

Sumber: BBC News
Baca pula: 

Minggu, 26 Februari 2012

Spesies Amfibi Baru ditemukan di India

Sebuah keluarga caecilian, sebuah cabang yang paling rumit dari hewan amfibi ditemukan di kawasan timur laut India. Hewan itu, sepintas mirip dengan cacing, tinggal di tanah kawasan hutan dan sangat dekat hubungannya dengan kelompok caecilian asal Afrika.
Dalam laporannya yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Proceedings B, para peneliti menyatakan bahwa hewan itu kemungkinan terancam populasinya akibat teknik penebangan dan pembakaran hutan yang dilakukan manusia untuk membuka lahan pertanian.
Caecilian sangat sulit dideteksi karena mereka hidup di bawah tanah atau di bawah daun-daun yang berguguran di tanah. Spesies yang ditemui ini sendiri didapat setelah peneliti melakukan penggalian di sekitar 250 kawasan selama 5 tahun terakhir di seluruh bagian timur laut India.
“Caecilian merupakan kelompok hewan yang sangat samar, dan tidak mungkin mengidentifikasi spesies atau genus atau keluarga baru hanya dengan mengumpulkannya,” kata SD Biju, peneliti dari University of Delhi, India, yang mengetuai penelitian.
Biju menyebutkan, pihaknya telah mempelajari molekul DNA dan morfologi baik internal ataupun eksternal dari hewan itu, untuk mengidentifikasi spesies yang bersangkutan. Saat analisis selesai dilakukan, peneliti mendapati bahwa tidak saja mereka menemukan spesies baru, tetapi juga merupakan perwakilan dari keluarga hewan yang belum diketahui sebelumnya.
Meski begitu, spesies amfibi baru ini merupakan keluarga caecilian ke 10 yang berhasil diidentifikasi. Para peneliti memberinya nama Chikilidae, diambil dari nama yang biasa digunakan oleh warga Garo, penduduk sekitar kawasan ditemukannya spesies tersebut.
Dari bukti-bukti DNA, diketahui bahwa spesies ini berpisah dari keluarga terdekat mereka yang berasal dari Afrika, sekitar 140 juta tahun lalu. Tepatnya saat benua raksasa purba, Gondwana terpisah-pisah dan menjadi India dan Afrika yang seperti kita ketahui saat ini.

Sumber: BBC News
Baca pula:

Sabtu, 25 Februari 2012

Awan Berjatuhan ke Bumi

Percaya atau tidak, awan yang menaungi manusia dari panas matahari, mulai "berjatuhan". Jatuh di sini dalam definisi jaraknya tidak lagi jauh dari permukaan Bumi.
Para peneliti menemukan bahwa dalam waktu sepuluh tahun terakhir, jarak awan dan permukaan Bumi sudah mulai menipis. Peneliti dari University of Auckland di Selandia Baru menganalisa tinggi awan di udara sejak tahun 2000 hingga 2010. Untuk bisa mengambil kesimpulan penurunan jarak ini mereka menggunakan multi-angle imaging spectroradiometer (MISR). Instrumen ini biasa digunakan untuk pesawat luar angkasa milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Terra.
Hasil penelitian itu menemukan bahwa tinggi awan dari permukaan Bumi menurun sebanyak satu persen, sekitar 30,48-39,62 meter, dalam satu dekade ini. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir akan dampak negatif dari penurunan tinggi awan ini. Sebab, menurut penelitian yang sama, penurunan tinggi awan akan memberi rasa sejuk yang lebih efisien.
Awan yang lebih rendah juga mengurangi panas permukaan planet dan memperlambat efek dari pemanasan global. Meski demikian, para peneliti yang dipimpin oleh Roger Davies, belum bisa memastikan berapa penurunan maksimal yang dianggap aman. Ia hanya memastikan jika fenomena ini butuh pengamatan jangka panjang untuk kepentingan suhu global.
"Jika awan kembali meninggi dalam sepuluh tahun terakhir, kita bisa menyimpulkan jika mereka tidaklah memperlambat perubahan iklim," ujar Davies seperti dilansir The International Business Times, Jumat (24/2).
"Tapi jika memang mereka tetap menurun, maka akan jadi hal yang amat penting. Kami tidak mengetahui secara persis apa penyebab tinggi awan menurun," tambahnya.
Awan dianggap sebagai salah satu elemen yang tidak pasti dalam memprediksi suhu masa depan. Penelitian jatuhnya tinggi awan ini menjadi pengukuran akurat pertama yang dilakukan manusia terhadap awan dalam basis global.

Sumber:  The International Business Times
Baca pula:

Jumat, 03 Februari 2012

365 Spesies Baru Ditemukan di Peru

Sekitar 365 spesies yang belum pernah terlihat sebelumnya, ditemukan di taman nasional Peru saat tengah dilakukan inventarisasi hutan Amazon. Menurut Wildlife Conservation Society (WCS) penemuan ini berlokasi di Taman Nasional Bahuaja Sonene, sebelah tenggara Peru.
Meski 365 spesies baru ini sudah ditemukan di tempat lain, tapi ini adalah kali pertama mereka dijumpai di Bahuaja Sonene. Spesies yang ditemukan antara lain 30 spesies burung, termasuk elang hitam-putih, phalarope Wilson, dan burung elang malam berwarna abu-abu.
Survei ini juga berhasil mendokumentasikan dua mamalia yang belum pernah ada di hutan itu, seperti kelelawar kuping besar Niceforo dan kelelawar tiga warna. Selain itu didokumentasikan juga 233 spesies ngengat dan kupu-kupu.
Kesemuanya berhasil ditemukan berkat program inventarisasi hutan. Sebab, inilah kegiatan inventarisasi pertama yang dilakukan sejak taman nasional Bahuaja Sonene didirikan di tahun 1996.
"Penemuan lebih banyak spesies di sini menunjukkan pentingnya konservasi di region ini," kata Julie Kunen sebagai Direktur WCS dalam program Latin Amerika dan Karibia, Kamis (2/2). "Taman ini merupakan salah satu batu permata dari Amerika Latin dalam hal peningkatan kerja area yang dilindungi."
Taman nasional Bahuaja Sonene berisi lebih dari 600 spesies burung, termasuk tujuh tipe kakaktua, 180 spesies mamalia, 50 jenis reptil dan amphibi, 180 jenis ikan, dan 1.300 jenis kupu-kupu.
Pertumbuhan spesies sebanyak ini diakui sebagai bentuk 'ledakan' spesies dalam satu dekade terakhir. Menurut data World Wildlife Fund (WWF), dalam kurun waktu 1999-2009, rata-rata tiga hari sekali ditemukan satu spesies baru di Amazon.

Sumber: MSNBC
Baca pula:

Sabtu, 14 Januari 2012

Ditemukan Planet Baru Mirip Saturnus

Sebuah benda luar angkasa yang misterius terdeteksi di luar sistem tata surya kita lima tahun yang lalu, kemungkinan adalah planet bercincin yang mirip dengan Saturnus. Para peneliti di sebuah observatorium Chile, Cerro Tololo Inter-American Observatory mengumumkan penemuannya setelah mempelajari gerakan gerhana cahaya dari sebuah bintang yang menunjukkan adanya benda besar yang mengorbit di dekatnya.
Diumumkan pada pertemuan American Astronomical Society yang ke-219, sesama rekan peneliti, Eric Mamajek, membandingkan ‘sebuah obyek yang sangat aneh dan unik’ yang menyebabkan fenomena ‘Saturn on steroid.’ “Setelah kami mengesampingkan gerhana pada bintang yang berbentuk bulat atau cakram melingkar di sekitar bintang, saya menyadari bahwa penjelasan yang paling masuk akal adalah semacam sistem bercincin debu mengorbit pada benda lain yang lebih kecil," ungkapnya.
Seperti dilansir Space.com, para astronom mempelajari pola cahaya dalam periode 54 hari di awal 2007. Bintang yang mengalami gerhana, dikenal sebagai 1SWASP J140747.93-394542.6, yang berada sekitar 420 tahun cahaya.
Para peneliti mengatakan bintang ini memiliki massa yang mirip dengan matahari dan berada sekitar 158.1 juta mil jauhnya- atau 1.7 kali jarak Bumi ke matahari. Mamajek menyatakan bahwa satu cakram padat bagian dalam dan tiga cakram luar masing-masing bernama Rochester, Sutherland, Campanas dan Tololo. Para astronom percaya bahwa terdapat ribuan cincin yang mengelilingi mereka.
Namun, para ahli masih belum mengetahui apakah benda bercincin in adalah sebuah planet, bintang dengan massa yang rendah, atau sebuah planet kerdil berwarna coklat. Celah pada cincin, ujar Mamajek, menunjukkan keberadaan benda lain, seperti bulan atau planet baru.
Tim peneliti ini juga telah mengajukan sebuah proyek all-sky monitoring untuk menemukan sistem bintang bercincin yang lain. (Oleh: Patrisya Sharen. Sumber: The Daily Mail, Space.com)

Baca pula:
Seorang anak usia 9 tahun mendidirkan sebuah organisasi, Environmental children's organization (ECO)
Paus benediktus XVI menyerang misa natal konsumtif
Bola misterius jatuh dari langit
Kekerasan mesuji,kelalaian pemerintah
Persaingan LPI dan LSI

Senin, 09 Januari 2012

Maladewa "Dipindahkan" ke Australia akibat perubahan iklim

Maladewa, salah satu negara mungil di kawasan Samudera Hindia, mulai memikirkan rencana untuk mengungsi. Sebab, negara yang hanya terdiri dari sekumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) ini terancam tenggelam karena perubahan iklim.

Panel Penyidik Perubahan Iklim memprediksi jika level air laut akan naik sebanyak 59 sentimeter di abad berikutnya. Ini membuat beberapa beberapa wilayah di Maladewa akan hilang sama sekali dari permukaan Bumi. Kemungkinan ini membuat Presiden Maladewa Mohamed Nasheed mulai bersiap memindahkan warganya ke negara lain yang lebih aman.

Salah satu negara tetangga yang dianggap mampu adalah Australia. "Dalam cara paling alami, semakin sulit untuk mempertahankan pulau ini," kata Nasheed dikutip dari Syndey Morning Herald, Sabtu (7/1). "Jika semua (negara) di sekitar Australia terlalu miskin dan tidak mampu mempertahankan diri sendiri, artinya akan lebih baik memulai hidup di Australia bukan?," ujarnya lagi.

Maladewa sebenarnya adalah negara indah yang mengambil keuntungan besar dari sektor pariwisata. Lokasinya yang dikelilingi pantai pasir putih dan laut biru membuatnya jadi kawasan favorit perjalanan dan bulan madu. Namun, lokasi ini pula yang berbalik mengancam keberlangsungan hidupnya.

80 persen dari lahan Maladewa hanya berada kurang satu meter di atas permukaan air laut dengan titik tertingginya hanya 2,4 meter. Bahkan sudah ada 14 pulau kecil yang harus ditinggalkan karena erosi laut. Kondisi ini membuat negara berpopulasi 350.000 orang itu harus segera mencari 'negara baru' untuk mengungsi.
"Jika negara lain tidak mau berbuat baik demi kepentingan diri sendiri, maka mereka harus berbuat baik untuk orang lain di sekitar (negara) mereka," kata Nasheed yang mengaku tidak ingin melihat warganya tidur di tenda pengungsian.

Maladewa bukanlah negara pertama yang membidik Australia sebagai negara pengungsian warganya. Satu dekade lalu, Pemerintah Tuvalu, negara kecil di utara Selandia Baru dan terletak di Laut Pasifik, meminta bantuan imigrasi untuk 12.000 warganya agar bisa pindah ke Australia. Hal ini disanggupi Pemerintah Australia karena mengganggap itu adalah kewajiban kemanusiaan untuk orang yang 'membutuhkan pertolongan dengan cepat.' (The Sydney Morning Herald)

Jumat, 23 Desember 2011

Dua Planet Baru Seukuran Bumi

Misi Kepler dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan telah menemukan dua planet seukuran Bumi yang mengorbiti sebuah bintang seperti Matahari dalam sistem tata surya kita, demikian NASA seperti dikutip Reuters, Kamis (22/12)
NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.
Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.
Kedua planet baru  ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.
"Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya," kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu.  Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.
Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.
Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.
Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.
Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya.

Selasa, 10 Agustus 2010

Akibat Hujan di musim kemarau


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memberi penjelasan mengenai kondisi anomali iklim yang terjadi selama musim kemarau 2010. Meski berada pada musim kemarau, yakni Maret-Agustus 2010, hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia.


Menurut Kepala BMKG Sri Woro, anomali iklim tersebut tidak terlepas dari sejumlah kondisi faktor pengendali curah hujan di wilayah Indonesia. "Yaitu dengan menghangatnya suhu permukaan laut perairan Indonesia," kata Sri Woro dalam konferensi pers di Gedung BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (18/6/2010).


Peningkatan suhu permukaan laut inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.


Berdasarkan pengawasan BMKG terhadap suhu perairan Indonesia selama Juni 2010, di sini terjadi kecenderungan suhu yang hangat. Kondisi inilah yang menambah penguapan dan membentuk awan berpotensi hujan.


Selain faktor suhu permukaan laut, terjadinya hujan pada musim kemarau ini juga dipengaruhi pergerakan El Nino yang cenderung menambah massa uap air dan faktor dipole mode negatif yang menambah massa uap air ke Indonesia bagian barat. "Juga ada pengaruh dari global warming. Pemanasan suhu Bumi ini tidak hilang, tetapi berubah bentuk menjadi energi kinetis dan hujan," tuturnya.


Dengan kondisi demikian, Sri mengatakan, potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi dengan intensitas sedang sampai lebat dan akan tetap terjadi hingga pertengahan Juli 2010.


"Musim kemarau 2010 ini cenderung lebih basah dibanding normalnya. Atau dengan kata lain, kecenderungan musim kemarau 2010 lebih pendek dibanding musim normalnya," papar Sri.


Walau demikian, Sri mengatakan, intensitas hujan tersebut masih tergolong normal. "Khusus untuk Jakarta, pada Juni, Juli, dan Agustus 2010 masih akan terjadi hujan. Tapi intensitasnya rendah dan tidak ekstrem," tandasnya.
Sumber:KOMPAS.com

Baca pula:
Premium vs fuel pump
Satpol PP kembali berulah
Patwal SBY nyusahin warga
Kontroversi arah kiblat di Indonesia
Permintaan maaf cut tari