Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

Syahid nya Sang Pintu Pengetahuan

Di awal subuh 19 Ramadhan 40 Hijriah, terlantun suara azan yang merdu di sudut - sudut kota Kufah. Di sebuah sisi jalan, terdengar langkah kaki perlahan berjalan menuju sebuah mesjid. Setelah memasuki mesjid, sosok itu membangunkan orang-orang yang tertidur di dalamnya sambil berkata, “Ayuhan naas, assholah”, wahai manusia, waktu sholat telah tiba bangkitlah!
Sosok itu adalah Amirul Mukminun, Imam Ali as.
 
Namun subuh terasa sangatlah berbeda. Semua terasa hening, Khusu'. Kemudian beliau memulai sholatnya. Ketika Imam Ali bangun dari rukuknya dan kembali merunduk sujud, seluruh jamaah pun mengikutinya kecuali seorang yang berdiri tepat di belakang Ali as. Sekelbat, Ibnu Muljam (semoga laknat Allah tercurah padanya) melancarkan serangannya. Ia menghujamkan sebilah pedang ke kepala Imam Ali dan pedangnya membelah bagian tengah kepala mulia Ali as dan jenggot mulia beliau bersimbahkan darah yang keluar dari kepala yang terbelah oleh pedang. Seketika darah segar pun terpancar mengenangi mihrab, namun Imam tak juga beranjak dari sujudnya dan terus tenggelam dalam dzikir dan shalatnya , dan suara sucinya terdengar keras: “Bismillah wa billah wa ala millati Rasulillah, fuztu wa rabbil Ka’bah”.  Dengan nama Allah, dan demi Allah, dan atas agama dan ajaran Rasulullah, aku telah jaya (menang, bebas) dan demi Tuhan Ka’bah.

Tak lama setelah itu, Ibnu Muljam, lelaki yang berusaha membunuh Imam Ali as itu pun segera ditangkap dan di bawa ke hadapan Imam. Namun, Amirulmu'minin kepada putranya, Imam Hasan as berkata, "Kita adalah ahlul bait yang pengasih. Berilah makan dan minumanmu padanya. Jika aku pergi dari dunia ini, Qisas-lah dia, dan jika tidak aku lebih tahu apa yang mesti kulakukan terhadapnya dan lebih pantas bagiku untuk memaafkannya.


Putra Imam Ali as, Muhammad Hanifah dalam kesaksiannya menuturkan, "Di malam 21 Ramadhan, ayahku meninggalkan anak-anak dan ahlul baitnya. Tak lama sebelum beliau syahid, ia berkata, "Maut bagiku bukanlah tamu yang tak diundang dan asing. Perumpamaan antara aku dan maut, laksana lelaki yang haus yang menemukan air setelah lama mencari dan bagaikan seseorang yang menemukan kembali barang berharganya yang telah lama hilang".

Pelita kehidupan seorang manusia agung yang menjadi simbol keadilan dan penentang kezaliman padam di Malam 21 Ramadhan. Imam Ali as pergi ke haribaan ilahi di saat ia berada dalam detik-detik terindah pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya. Setelah mengebumikan Imam Ali as, dengan nada duka, Imam Hasan as berkata, "Semalam, seorang manusia telah pergi meninggalkan dunia. Ia adalah manusia paling agung di antara para pemimpin Islam dan tak ada yang sebanding dengannya kecuali Rasulullah saw. Ia adalah satu satunya manusia yang lahir di dalam baitullah. Ia berjihad di sisi Rasulullah saw dan membawa bendera Nabi sementara Jibril dan Mikail selalu menolongnya. Ia pergi menuju ke haribaan ilahi di malam turunnya Al-Quran kepada Rasulullah saw. Tak ada harta, dinar atau dirham yang ditinggalkan ayahku kecuali uang 70 dirham yang disisihkannya untuk keluarga".

Inna lillah wainna ilahi rajiuun........

Minggu, 15 Agustus 2010

Bulan Rekonsiliasi


Ramadhan adalah tali yang diulurkan Tuhan kepada orang yang tenggelam, air yang disemprotkan Tuhan pada rumah yang terbakar, dan dokter yang memberikan terapi kepada penderita gangguan jiwa. menurut Al Qur'an, sumber segala derita manusia adalah kekalahannya melawan hawa nafsunya. Hawa nafsu itu, dalam konsep para sufi, adalah dimensi kebinatangan dalam diri kita. pernahkah kita melihat iklan salah satu pesawat telepon, yang menampilkan para tokoh dunia dengan perilaku kekanak-kanakannya. Dalam diri setiap manusia, ada jiwa kanak-kanak. Dalam diri setiap manusia, juga terdapat jiwa kebinatangannya. Di dalamnya, ada jiwa binatang buas, yang mengubah masyarakat menjadi pertarungan tanpa henti antara sesama serigala. tidak jadi soal, apakah anda militer, politisi sipil, atau sekedar pejabat daerah, dengan jiwa ini akan berusaha untuk menang dengan resiko apapun. Anda tidak peduli lagi dengan jumlah korban dan besarnya kerusakan. jika anda hanyalah orang kecil, dengan jiwa binatang buas ini, anda akan menumpahkan kemarahan dengan memberontak semua aturan, menolak semua kekuasaan, dan menentang setiap kompromi. Filsafat binatang buas dirumuskan oleh Lunatsarsky, ideolog komunis yang menyimpang; "Jauhkan cinta sejauh-jauhnya. Apa yang kita butuhkan adalah kebencian. hanya dengan kebencian kita akan berhasil mengusai dunia. Didalam diri manusia juga ada jiwa binatang ternak, yang mengubah homo sapiens menjadi homo economicus. Bila jiwa ini mengatur orang-orang kaya, mereka akan menjadi makhluk akan menjadi makhluk yang rakus, bakhil, tidak peduli dengan penderitaan orang lain. pada akhirnya, ia juga tidak peduli dengan penderitaannya sendiri. pada orang-orang miskin, jiwa binatang ternak ini akan menjadikan mereka seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Demi sesuap nasi, mereka akan menjual kehormatannya, agamanya, dan ahti nuraninya.
Namun kebinatangan hanyalah salah satu sisi dari kepribadian manusia. disamping manusia binatang, ia juga menyimpan sifat-sifat ketuhanan dan karena itu ia sekaligus insan bahimi,insan malakuti. Manusia mempunyai kaki yang berdiri kukuh diatas bumi dan kepala yang menjulang ke langit. Dalam diri manusia selalu terjadi pertarungan antara, apa yang dilukiskan Pobert Stevenson, Mr. Jekyll dan Mr. Hyde, antara insan bahimi dan insan malakuti.
Ramadhan datang untuk memenangkan insan malakuti. nabi SAW memberikan nasuhat agar bulan ini kita mengubah pola hubungan kebinatangan yang berdasarkan kebencian dan permusuhan dengan pola ketuhanan yang berdasarkan cinta dan silahturrahmi. Ketimbang mengejar-ngejar kemenangan, yang selalu berakhir dengan kekalahan, daripada memburu keberuntungan, yang selalu berujung pada kemalangan. mengapa kita tidak cari keadilan dan persaudaraan?baik kepada rakyat kecil maupun para pembesar. Nabi SAW berkata,"Bersedekalah kepada fakir miskin, muliakan para pemimpin kamu dan kasih sayangi orang-orang kecil diantara kamu. sambungkan persaudaraan kamu. sayangilah ank-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu."
Marilah kita perindah akhlak kita dibulan Tuhan ini, bulan yang bermanfaat untuk merekonstruksi kehidupan kita dengan lebih baik.



Baca pula:
Bulan maghfirah
Serangan kantuk saat puasa
Bulan berkah
Puasa dengan persembahan untuk tuhan

Jumat, 13 Agustus 2010

Bulan Maghfirah


Inilah bulan magfirah, bulan yang paling mulia sisi Allah. Pada bulan ramadhan, Allah membukakan pintu taubat dan ampunan. Pada bulan inilah kita menemukan saat yang paling tepat, ketika kita tersungkur dihadapanNya , merintih memohonkan ampunanNya. Punggung kita yang telah sarat dengan dosa kita ringankan dengan memperpanjang sujud kita. Disini kita membebaskan diri kita dari pasungan dosa dengan memperbanyak istighfar. Karena itu, di antara wirid yang harus kita biasakan di bulan ramadhan adalah istighfar; Ya Allah Engkau maha Pengampun dan Maha Mulia, ampunilah aku. Innaka' afuwwun karim, tuhibbul 'afwa' fa'fu anni. Bulan ramadhan menjadi bulan yang agung karena dinisbahkan kepada Tuhan. Tuhan bukan hanya Wujud yang kepadaNya kita haturkan persembahan dan kita mohonkan pertolongan . Dalam Al Qur'an, Tuhan adalah kampung halaman kita, tempat kembali kita. "kepada Allah kamu semua kembali", Q.S Al Maidah ayat 48. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Kerinduan”, Rumi menyuruh kita untuk menjadi Yesus di punggung keledai kurus; “Yesus diatas keledai kurus, inilah lambing akal yang harus mengendalikan tabiat hewaniah. Perkuat ruhmu seperti Yesus. Jika bagian itu lemah, keledaimu yang kerempeng akan berubah menjadi naga perkasa. Berterimakasihlah ketika apa yang tampak kasar datang padamu dari orang bijak. Sekali waktu, seorang suci, sambil mengendarai keledainya, melihat ular merayap masuk ke mulut seorang yang sedang tertidur. Ia memburu dengan cepat tapi tidak berkali-kali dengan tongkatnya. orang itu terbangun ketakutan dan lari ke bawah pohon apel dengan apel-apel busuk bertebaran diatas tanah. ‘Makanlah!!! Hai orang malang, makanlah. ‘kenapa kau lakukan ini padaku?’ ‘Ayo makan lagi, kamu tolol.’ ‘Saya tidak pernah berjumpa dengan kamu sebelumnya?siapakah kamu ini? Apakah dalam batinmu kamu memusuhi jiwaku?’ orang arif itu memaksanya untuk makan dan ia mencoba lari darinya. berjam-jam ia meukuli orang malang itu dan membuatnya lari. Akhirnya, dimalam hari, dalam perut yang penuh dengan apel busuk, kelelahan dan bergelimang darah, ia jatuh dan memuntahkan semuannya, yang baik dan yang buruk, apel dan ular. Ketika ia melihat ular yang buruk keluar dari dirinya, ia bersimpuh di hadapan penyiksanya. ‘Apakah kamu jibril? Apkah kamu Tuhan? Penuh berkahlah saat kamu pertama melihatku. Waktu itu aku sudah mati dan tidak menyadarinya. Kau berikan padaku kehidupan baru. semua yang aku katakana padamu memang tolol. aku tidak menyadarinya.’ ‘Jika aku jelaskan apa yang aku lakukan, kamu mungkin akan panic dan mati ketakutan. Muhammad berkata; jika aku menceritakan musuh yang tinggal dalam diri manusia, maka ia yang paling berani sekalipun akan menjadi lumpuh. tak ada yang bisa keluar atau mencari nafkah. tak aka nada yang shalat atau puasa dan semua kekuatan untuk berubah akan menghilang dari diri manusia. karena itulah, aku diam ketika aku memukulimu sehingga seperti Daud aku dapat melunakkan besi. sehingga mustahil, aku dapat meletakkan kembali bulu-bulu pada sayap burung. diamnya Tuhan diperlukan karena kelemahan hati manusia. jika aku tadi mengabarkan kepadamu tentang ular itu, kamu tidak bakan mampu makan dan sekiranya kamu mampu makan pun, kamu tidak akan memuntahkannya. aku lihat keadaanmu dan aku dorong keldaiku ke tengah-tengahnya sambil bergumam,”Tuhanku, mudahkanlah urusan dia. aku tidak diizinkan mengabarkan kepadamu dan aku tak diizinkan berhenti memukulmu.’ orang yang disembuhkan itu, masih sambil berlutut berkata’aku tidak mampu berterimakasih padamu atas kecepatan kearifanmu dan kekuatan petunjukmu. Semoga Tuhan membalasmu.’ Kedatangan ramadhan adalah kedatangn orang arif dalam cerita diatas. Ramadhan memukuli kita dengan lapar agar nanti tidak menderita pada hari akhir nanti. Kita dipaksa untuk memuntahkan jajanan dunia kita, demi kesehatan dan keselamatan kita sendiri.

Baca pula:
Bulan rekonsiliasi
Serangan kantuk saat puasa
Bulan berkah
Puasa dengan persembahan untuk tuhan

Serangan Kantuk saat Puasa


Serangan kantuk di siang hari adalah salah satu masalah yang menjadi keluhan selama berpuasa. Penyebabnya, bukan hanya kurang tidur atau perubahan pola tidur akibat sahur. Tapi perubahan pola makan.
Mengantuk selama berpuasa umumnya terjadi akibat menurunnya kadar gula darah ke otak sehingga memengaruhi kinerja otak. Saat energi menipis, hati mengelurkan glikogen dan memberi energi cadangan bagi tubuh agar tetap beraktivitas. Sebab, otak mengonsumsi 60 persen dari asupan glukosa tubuh.
Seperti dikutip dari Fitness Spotlight, bila energi tambahan untuk kebutuhan aktivitas seharian mulai berkurang, tubuh akan melemas dan mengantuk. Biasanya terjadi pada siang hari atau bisa lebih cepat bagi yang tidak makan sahur.
Penyebab lain adalah tubuh kekurangan zat besi saat sahur. Sumber zat besi diperoleh dari sayuran berdaun hijau seperti bayam, sawi, kangkung, katuk, ikan teri dan aneka kacang-kacangan. Jumlah zat besi yang cukup membantu tubuh menyerap oksigen lebih banyak ke otak sehingga mengurangi rasa kantuk.
Perhatikan pula asupan karbohidrat kompleks seperti beras merah, ubi, jagung, singkong, oatmeal, roti gandum yang akan menahan glikogen lebih lama untuk menghasilkan glukosa. Anda pun bisa melewati hari-hari puasa dengan lebih segar.

Baca pula:

Kamis, 12 Agustus 2010

Bulan Berkah


Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah karena setiap amal yang kita kerjakan akan dilipatgandakan pahalanya. Satu nilai fardhu kita dibulan ramadhan akan dihargai sama dengan 70 amal fardhu diluar bulan ramadhan. Membaca satu ayat Al Qur'an di bulan ramadhan sama dengan menghakhatamkan Al Qur'an dibulan yang lain. Bahkan seandainya orang itu hanya tidur ramadhan ini, maka tidurnya itu dihitung sebagai ibadah oleh Allah SWT. dan seandainya ia hanya bernapas di bulan ramadhan ini maka napasnya itu pun akan dihitung sebagai tasbih kepada Allah SWT. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Sebaliknya, sesuia denga keadilanNya, amak dosa pun yang dilakukan di bulan ramadhan akan dilipatgandakan siksanya. bahkan ketika kita berpuasa, tetapi kita tidak mampu menjaga diri kita dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT, maka anda akan kehilangan semua pahala, dan semua berkah. Bulan Rahmat. Nabi Muhammad SAW menyebut bulan ini sebagai rahmat, karena pada bulan ini kita menajamkan kembali rasa sayang kita. Kita dianjurkan menyayangi anak yatim, karena mereka itu adalah anak-anak yang telah kehilangan kasih sayang, terlebih dari kedua orangtuanya. Kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang muda agar mereka tidak mencari kasih sayang di tempat-tempat yang terlarang. Kita diimbau untuk menyantuni saudara-saudara kita yang lemah, fakir miskin dan para pekerja yang berada dibawah tanggungan kita. Bulan ramadhan adalah bulan solidaritas sosial. Di tengah-tengah masyarakat yang tengah gersang dengan kasih sayang, dan ramadhan hadir untuk meniupkan rahmat. Pada bulan inilah anak-anak menjalin kembali kasih sayang mereka dengan orangtua mereka, pegawai kembali mempererat hubungan persaudaraan dengan atasan mereka, dan orang-orang miskin memadu ikatan ksih mereka dengan orang-orang kaya.

Baca pula:
Bulan rekonsiliasi
Bulan maghfirah
Serangan kantuk saat puasa
Puasa dengan persembahan untuk tuhan

Selasa, 10 Agustus 2010

Puasa dengan persembahan untuk Tuhan


Seorang anggota jemaah –sebut saja Fatimah- mengadu kepadaku, “Setiap kali masuk Ramadhan, saya merasa sedih. Saya bertambah sedih karena saya merasa sedih. Bukankah kata pak Ustaz, Rasulullah dan sahabatnya menyambut Ramadhan dengan gembira.” Matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Aku yakin ia menangis beneran. Betapa sering aku menemukan dalam majlis-majlis pengajian ustaz yang menangis bohongan dan pendengar yang menangis beneran.
“Apa yang menyebabkan ibu menangis?” tanyaku
“Saya seperti orang pulang kampung. Saya ingin membahagiakan keluarga saya. Saya ingin memberikan hadiah paling berharga buat mereka. Tetapi saya miskin. Saya tidak punya apa-apa yang berarti. Yang teronggok di punggung saya hanya kotoran. Ramadhan mengantarkan saya kepada Tuhan, kampung halamanku. Saya ingin membuat Tuhan rido kepadaku. Tetapi saya tidak membawa apa-apa. Di atas punggung saya teronggok dosa dan dosa!” Isakannya makin keras. Giliran ustaz untuk ikut menangis; dan kali ini, menangis beneran.
“Tidak perlu bersedih, Bu,” kataku setengah hati. Setengah hatiku membisu dalam kesedihan. “Jika kita menemui Ramadhan tanpa bekal, marilah kita jadikan bulan ini untuk mengumpulkan hadiah-hadiah yang berharga untuk Tuhan. Jika kita datang dengan onggokan dosa, marilah kita campakkan dosa-dosa itu dengan taubat kita.” Seperti biasa, dengan cepat aku bermetamorfosa dari seorang konselor menjadi khotib. Tampaknya lebih mudah berkhotbah daripada berempati.
“Itu juga menambah dukaku, ustaz. Setiap Ramadhan ketika semua orang berusaha untuk tarawih setiap malam, saya sering meninggalkannya. Ketika tetangga-tetangga bercerita bahwa mereka sudah menyelesaikan sekian juz al-Quran, saya gak bisa ngomong. Satu juz pun tidak sempat saya baca. Pada malam Lailatul Qadar, kawan-kawan saya bisa bermalam-malam iktikaf di masjid, bahkan ada berumrah ke tanah suci, saya tidak sanggup meninggalkan pekerjaan saya?”
“Apa pekerjaan ibu di bulan Ramadhan?”
“Saya ini orang kaya, tumbuh besar dalam keluarga kaya. Di rumah saya punya banyak pembantu dan di kantor saya punya banyak pegawai. Ke mana pun saya pergi saya dilayani orang. Pada bulan puasa, saya ingin melayani orang. Saya ingin berkhidmat pada orang-orang kecil. Saya menyiapkan makanan untuk orang-orang miskin. Saya berbelanja, memasak, membungkus, dan mengantarkan makanan itu ke rumah-rumah mereka. Bakda Isya, setelah usai membagikan makanan, saya pulang dalam keadaan lelah. Saya segera tidur pulas. Pada Lailatul Qadar, saya bukan saja membagikan makanan untuk buka tetapi juga untuk sahur. Saya bergadang juga, ustaz, cuma tidak di masjid. Tapi di tempat-tempat kumuh.
Jadi, pada waktu Id, ketika kaum muslim yang lain bergembira karena bisa mengumpulkan hadiah yang berharga untuk Tuhan –khatam Al-Quran, lengkap salat tarawih, banyak iktikaf dan berzikir- saya sedih lagi. Mereka berhasil “menangkap” anugrah Tuhan di bulan Ramadhan; saya tidak!”
Puasa dengan perkhidmatan
Ibu Fatimah merasa sedih karena ibadat Ramadhannya berbeda dengan kebanyakan orang. Ia sedih karena tidak sanggup dan tidak sempat bertarawih, bertadarus, beriktikaf dan berzikir bersama. Ia menganggap bahwa hadiah yang paling berharga untuk Tuhan adalah ibadat, dalam makna ritual.
Alkisah, Nabi Musa bermunajat kepada Tuhan. Sang Mahasuci bertanya, “Hai Musa, banyak sekali ibadatmu, yang mana untukKu?” Musa terkejut mengapa Dia bertanya tentang ibadatnya, sebab semuya ibadatnya untuk Tuhan: “Salatku, hajiku, korbanku, doa dan zikirku.” Semuanya untuk kamu, mana untukku? Musa bingung dan berkata: “Tunjukkan pada hambamu yang lemah ini, mana ibadatku untukMU!” Berkhidmatlah kepada hamba-hambaKu!
Bagus sekali, memang, kalau kita dapat menjalankan ibadat-ibadat itu dengan sebaik-baiknya. Semuanya untuk kita juga. Seperti disebutkan dalam hadis, dengan berpuasa dan salat tarawih yang ikhlas, kita memperoleh ampunan Allah swt. Ampunan itu jelas untuk kita. Dengan membaca satu ayat Al-Quran saja di bulan Ramadhan, kita memperoleh pahala sama dengan mengkhatam Al-Quran di bulan lain. Anugrah Tuhan karena mengkhatam Al-Quran diberikan kepada kita. Ibadat pada Lailatul Qadar sama nilainya dengan ibadat seribu bulan. Pahalanya lagi-lagi untuk kepentingan kita.
Ibu Fatimah merasa sedih karena Ramadhan mengantarkannya untuk pulang kepada Tuhan. Ia ingin memberikan hadiah untuk membuat Tuhan rido kepadanya. Ia merasa bahwa hadiah berupa salat, tadarus dan sebagainya itu adalah persembahan untuk Tuhan. Sekiranya ia banyak melakukan ibadat-ibadat itu, nun di sana di ‘arasy yang agung, Tuhan akan berkata: Semuanya untuk kamu, mana untukKu. Memang kita memerlukan semua anugrah itu: kasih sayang Tuhan, ampunannya, dan pembebasan dari api neraka. Kita membutuhkan karuniaNya untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.
Tetapi Ibu Fatimah memerlukan lebih dari itu. Ia ingin melakukan sesuatu untuk Dia. Ia ingin memberiNya hadiah yang berharga. Ketahuilah, hai Fatimah –sekiranya Anda membaca artikel ini- Anda sudah berada on the right track. Berkhidmatlah kepada hamba-hambaNya. Sekiranya Anda sedih karena beranggapan Anda tidak sempat salat tarawih yang lengkap sehingga kehilangan ampunan Tuhan, simaklah hadis qudsi berikut ini (Lihat Hasan Syirazi, Kalimat Allah, hal. 232):
“Hai Musa, tahukah kamu betapa besarnya kasih sayangKu padamu?”
“Engkau lebih sayang padaku ketimbang ibuku”
“Hai Musa, seungguhnya ibumu menyayangi kamu karena anugrah kasihKu jua. Akulah yang melembutkan hatinya sehingga ia sayang padamu. Akulah yang membaikkan hatinya supaya ia meninggalkan kebaikan tidurnya untuk merawatmu. Sekiranya aku tidak melakukannya, maka akan samalah ibumu dengan perempuan lainnya di dunia.
Hai Musa, tahukah kamui bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hambaKu yang mempunyai dosa dan kesalahan yang begitu banyak sehingga memenuhi sudut-sudut langit. Tetapi aku tak hiraukan dosa-dosanya; semua aku ampuni.”
“Mengapa tidak Kauhiraukan, ya Rabb”
“Karena ada satu hal yang mulia yang Aku cintai dalam dirinya: Ia mencintai fakir miskin. Ia bergaul akrab dengan mereka. Ia menyamakan dirinya seperti mereka. Ia tidak sombong. Jika ada hambaku seperti dia, aku ampuni dia dan aku tidak hiraukan dosa-dosanya.”
Puasa tanpa perkhidmatan
Sampai di sini kita tahu bahwa Ibu Fatimah tidak selayaknya bersedih hati. Ia sudah menjalankan puasa dengan hadiah berharga untuk Tuhan: perkhidmatan. Yang harus berduka justru mereka yang berpuasa tanpa persembahan untuk Dia. Celakalah orang yang berpuasa dengan kezaliman –lawan dari perkhidmatan. Mereka bahkan tidak mendapat apa pun untuk dirinya sekali pun. “Betapa banyaknya yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,” sabda nabi Muhammad saw.
Pada bulan Ramadhan, Nabi yang mulia memergoki seorang perempuan yang memaki budaknya. Ia memanggil perempuan itu dan menyuruhnya berbuka. Perempuan itu berkata: Inni shâimah. Aku berpuasa. “Bagaimana mungkin kamu berpuasa tetapi kamu maki-maki budakmu.” Nabi mengingatkan perempuan itu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perkhidmatan, bukan makian. Memaki hamba Allah akan menghapuskan semua pahala puasanya. Supaya puasa itu berfaidah bagi kamu, tinggalkan segala macam kezaliman, terutama pada orang kecil.
Dilaporkan kepada Nabi tentang seseorang yang selalu berpuasa di waktu siang dan bangun malam untuk salat tetapi sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Ia menjawab singkat: Dia di neraka! Ayat berikut ini ditujukan untuk orang-orang yang bersedekah di bulan puasa tetapi menyertai sedekahnya dengan kata-kata yang menyakitkan hati: “Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu batalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti hati sebagaimana orang yang menginfakkan hartanya untuk dipamerkan di tengah-tengah manusia…” (Al-Baqarah 264)
Orang yang salat –baik di bulan Ramadhan maupun bukan- dan tidak melakukan perkhidmatan diancam dengan kecelakaan (neraka): Maka celakalah orang-orang yang salat; yang lalai dalam salatnya; yang hanya pamer saja; yang tidak memberikan pertolongan.” (Al-Ma’un 5-7).
Jadi supaya semua ibadat kita di bulan Ramadhan ini mendatangkan faidah yang bernilai bagi kita, tinggalkan segala macam kezaliman. Dan supaya puasa kita menjadi persembahan yang agung bagiNya, sertailah semuanya dengan perkhidmatan. “Semua makhluk adalah keluargaKu. Makhluk yang paling Aku cintai adalah yang paling penyayang pada makhluk yang lain, yang paling bersungguh-sungguh dalam memenuhi keperluannya.” (Hadis Qudsi).
Pesan Utama Madrasah Ruhaniah
Inilah pesan utama buku ini. Dengan puasa, kita ingin menjadi anggota keluarga besar Tuhan; anggota keluarga yang paling dicintaiNya. Aku menerbitkan buku ini untuk orang seperti Ibu Fatimah agar ia bisa berbahagia dengan perkhidmatannya kepada sesama manusia di bulan Ramadhan. Tetapi aku menyampaikan buku ini juga untuk kawan-kawan Ibu Fatimah yang terlalu banyak menaruh perhatian pada ibadat-ibadat ritual.
Konon, menurut cerita Ibu Fatimah, pada hari-hari Ramadhan, ia bersedih hati karena kawan-kawannya dapat melayani Tuhan. Sementara ia hanya melayani manusia. “Dari mana ia tahu bahwa kawan-kawannya melayani Tuhan dengan baik? ” tanyaku. Dari laporan mereka. Mereka bercerita tentang ketahanan puasanya sehingga tetap berpuasa dalam keadaan sakit sekalipun atau dalam perjalanan seberat apa pun. Mereka melaporkan berapa juz Al-Quran yang sudah mereka baca. Mereka menuturkan betapa nikmatnya beriktikaf dengan mubalig kondang semalam suntuk. Mereka berkisah tentang pengalaman berumrah di bulan Ramadhan di tanah suci.
Aku katakan kepadanya bahwa bersaing dalam melaporkan ibadat bisa mengalihkan pelayanan kita kepada Tuhan menjadi pelayanan kepada diri sendiri. Puasa yang seharusnya melatih kita untuk meninggalkan ego kita malah memperkuatnya. Aku teringat kepada nasihat Nabi Isa as kepada para pengikutnya perihal puasa:
"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:16-18)
Mungkin kita tidak perlu meminyaki kepala kita untuk menyembunyikan puasa kita, tetapi kita tidak perlu “memamerkan” ibadat-ibadat kita. Syarat ampunan Tuhan disebutkan dalam sabda Nabi saw “īmânan wahtisâban”, dengan keimanan dan ketulusan.
Supaya kita berpuasa dengan tulus, janganlah kita jadikan Ramadhan sejenis Akademi Fantasi yang mengukur kelebihan kita dari jumlah sms yang mendukung kita. Jadikanlah
puasa sebagai madrasah ruhaniah. Memasuki madrasah ruhaniah berarti menjalani pelatihan untuk menggeser perehatian yang berlebihan pada ego kita. Berhijrahlah dari “rumah kita yang sempit” (ego) menuju Allah dan RasulNya, “rumah semesta yang tidak terhingga”.
Tahap awal meninggalkan egoisme adalah altruisme (dari bahasa Itali, altrui, orang lain). Ketika Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyakiti manusia, dia menyakiti aku. Barangsiapa menyakiti aku, ia menyakiti Allah”, ia mengingatkan kita bahwa melayani Allah dan RasulNya harus diungkapkan dengan melayani sesama manusia. Cintailah Allah dan RasulNya dengan mencintai secara tulus sesama manusia. Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang, bulan rahmat. Ramadhan, seperti Nabi saw, diturunkan untuk menyebarkan rahmat pada seluruh alam semesta. Buku ini aku terbitkan –seperti biasa- dengan tergesa-gesa untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan kasih sayang.
Pembaca yang arif dengan segera menangkap bahwa aku menghindari kata “menulis”, tetapi “menerbitkan” atau “menyampaikan.” Karena buku ini memang tidak aku tulis. Sukardi, kepala perpustakaan Muthahhari, dan Miftah F Rakhmat mengumpulkan rekaman ceramah-ceramahku di masjid Al-Munawwarah dan kemudian menyuntingnya menjadi naskah yang layak dibaca. Pada naskah pertama, ada beberapa tulisan Miftah, yang menurut bapaknya sangat bagus untuk disertakan di sini. Tetapi Miftah, yang terkenal karena rendah hatinya, merasa tidak enak berdampingan dengan tulisan (yang sebetulnya ceramah) bapaknya. Sebagai penggantinya, ia menambahkan doa-doa harian di bulan puasa dan menerjemahkannya. Aku berani mengatakan bahwa sebetulnya buku ini karya dia dan Sukardi. Aku hanya menyediakan bahan-bahannya. Merekalah yang menyusunnya dan mengorganisasikannya. Bukankah karya pelukis hanyalah pengorganisasian dari warna-warna yang telah tersedia. Garis dan bentuk tidak orisinal. Organisasi garis dan bentuk itu yang orisinal.
Walhasil, terimakasih yang setinggi-tingginya kepada kedua “pelukis” buku ini. Kepada Bambang dari penerbit Muthahhari Press saya menghaturkan “nuhun pisan”; dan kepada Rudi, yang mengetik naskah ini, saya menyampaikan apresiasi saya yang paling dalam. Kepada para pembaca, saya menyampaikan syukur saya atas kesediaannya untuk mebaca buku ini, menyebarluaskannya pada kawan-kawan dan teruatama sekali meneruskan pesan utama buku ini dengan melintas ruang dan waktu. Buku ini diterbitkan untuk bulan Ramadhan tahun ini, tetapi pesannya relevan sepanjang masa.
Oleh:Jalaluddin Rakhmat

Baca pula: