Tampilkan postingan dengan label Cinta di ujung shubuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta di ujung shubuh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Polos Atau Bodoh

“Selalu saja seperti ini”,gerutuku dalam hati.
          Budaya kita memang tak banyak berubah. Walau kini saya telah berseragam putih abu-abu, tapi kebiasaan “ngaret” masih saja terawat dilingkungan terhormat ini, lingkungan pendidikan. Alangkah buruk wajah pendidikan kita. Karena itu pulalah sebabnya muncullah sebuah candaan yang mengatakan bahwa kebiasaan ini menjadi bawaan anak-anak negri kita selama Negara kita masih menjadi penghasil karet dunia. Sebuah lelucon yang lucu sekaligus mengerikan buat saya.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, tapi belum ada tanda-tanda “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” itu akan masuk ke kelas ini. Mungkin ia ada masalah keluarga sehingga paginya sibuk sendiri mengurusi ini dan itu. Mungkin juga ia memang terlambat bangun karena semalam nonton liga inggris sampai dini hari. BUT Whatever, saya seakan tak mau tau dengan masalahnya. Karena aku sudah terlanjur jengkel dengan keterlambatan seperti ini.
Sebenarnya saya biasa membawa buku(maksudnya sih novel,wkwkwkw…J) untuk mengisi waktu senggangku. tapi karena tadi berangkatnya buru-buru makanya bukunya tertinggal dirumah. Di kelas, semua punya obrolan masing-masing. Ada yang bahas masalah kencan dengan pacarnyalah, pengalaman dikejar polisi semalam karena ikut balapan liar, sampai bahas masalah politik dalam negri segala (kayak politisi aja), sekolah saja belum kelar mau urusin soal Negara (Pikir picikku menghancurkan perhatiannya terhadap masalah yang dihadapi Negara ini). Saya kadang bergabung dengan obrolan pecinta bola dikelas tapi berhubung kemarin tim kesayangan saya kalah makanya saya malas ngebahasnya disana.
……^^^^^……
          Tak terasa jam pertama pun sudah lewat. Negara kini sudah rugi lagi deh. Andai pelajaran tadi bisa masuk, paling tidak para pemudanya bisa maju selangkah dalam berpikir. Saya jadi teringat dengan pesan Bung Karno, kata beliau “1000 kaum tua bisa bermimpi tapi 1 pemuda bisa mengubah dunia”. Secercah harapan yang diberikan kepada para pemuda bangsa ini, memang terkadang berbanding terbalik dengan tindakan yang ia peroleh dari kaum tua (Pemerintah), kreativitasnya terkungkung dalam sebuah penjara yang diberi nama “Kedisiplinan”. Langkahnya terhenti, idenya terpotong, semuanya serba dibatasi dengan aturan-aturan yang tidak jelas. Maka cukup wajar jika para pemuda kreatif kita lebih memilih berkreasi dinegri orang dibanding ditanah kelahirannya sendiri. Tidak mendapat perhatian yang pantas, tempat yang layak, dan biaya yang cukup. Eronis memang. Khusus soal dana, mungkin lebih banyak masuk ke perut para tikus-tikus pemerintah (tapi tidak semua juga yach…), yang telah lama menggerogoti bangsa ini.
……^^^^^……
          Dalam sebuah lirik lagu Bang H. Rhoma, mengatakan “masa muda, masa yang berapi-api”. Memang Bang Haji saat menciptakan lagu ini berada pada masa itu, jadi ia pun paham betul apa yang menjadi kerisauan para pemuda. Tak ada yang salah dengan semangat itu, bangsa ini hanya butuh tokoh yang bisa mengarahkan jalan mereka, mewadahi tempat mereka untuk berkreasi. Entah bodoh atau ini hanya buah dari kepolosan seorang anak muda, tapi kala itu saya dan kawan-kawan baru saja melakukan tindakan yang melanggar aturan sekolah (saya tersenyum sendiri kala mengingat hal ini). Jika ditinjau dari segi filosofi(maaf kalau,penulisnya sok filosof), sebuah pagar/pintu dibuat untuk membantu si pemilik lahan dari gangguan ekternal (hewan ataupun pihak-pihak yang ingin masuk dan mengganggu si pemilik lahan). Jika lihat dari sisi ini maka seorang siswa yang meloncati pagar sekolahnya sendiri dan itu melukai dirinya sendiri,bisa dibilang ini adalah tindakan yang sangat bodoh(artinya penulis adalah orang bodoh,hehehe…).
          Memang sangat lucu sih jika ingin menceritakan hal ini karena ini adalah kekonyolan segerombolan anak muda yang kena sial lantaran “kenakalannya” sendiri. So…begini kisahnya.
          Hari itu adalah hari sabtu. Seperti biasa proses belajar mengajar dimulai pukul 07.00 tepat. Tapi kali ini ada yang berbeda pada jam kedua (pukul 10.00), semua guru dan pejabat sekolah mengadakan rapat. Tapi…..walau begitu Kepsek memerintahkan kepada semua guru agar memberikan tugas kepada siswa-siswanya sebelum menghadiri rapat. Ini dilakukan supaya proses belajar mengajar tetap terlaksana (padahal kan Cuma belajar sendiri yach…). Dari sinilah rencana busuk itu muncul.
          Ketika sedang lesu mengerjakan tugas dari guru, tiba-tiba salah seorang teman mengeluarkan ide briliannya itu. 5 sekawan inipun sekjab terdiam dan tak berapa lama, senyum pun tersirat dibibir mereka semua. Tanpa piker panjang semuanya pun berbenah, semua beres, kita pun kabur…(Don’t try at your scholl)
          Karena yang memimpin misi ini adalah “Raja Bolos” di sekolah ini, mestinya semuanya berjalan dengan lancer tapi….semua itu hanya tinggal diangan saja.
          Semua berjalan sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Setelah tiba di lokasi, kita pun tertawa dengan senangnya, menganggap misi ini terlalu mudah untuk diselesaikan. Tanpa piker panjang, satu per satu semua meloncat dari pagar setinggi 2 meter ini. Dengan bermodal sebatang kayu, hal itu lebih memudahkan aksi kita kali ini. Memang komandan kita yang satu ini sudah punya persiapan yang sangat matang. Seolah-olah hal ini sudah direncanakan jauh-jauh hari.
          Tapi……setelah melewati semuanya, disinilah terjadi hal konyol itu. Hal yang membuat kita semua tertawa terbahak sekaligus membuat kita termuntah-muntah.
          Hehehe…. J
          Penasaran…???
          Mau tau????
          Aku jadi malu bilangnya.
          Setelah semua menyebrang dengan selamat, kita semua pun saling mengendus satu sama lain.
          “Kayak ada yang bau?”,tegur aku
          Sang komandan pun menyadari itu. Dan ia melihat tenyata semua pakaian kita sudah penuh dengan kotoran manusia. Menjijikkan….semuanya pun muntah sejadi-jadinya dan tak tau berbuat apa. Untungnya, salah seorang teman kami ada yang rumahnya tak jauh dari sekolah. Kita pun segera berlari kesana. Sungguh menyedihkan petualangan kami…. L
          Keesokan harinya, setelah mencari tahu,ternyata ini smua ulah dari si penjaga sekolah yang sudah jengkel dengan ulah si komandan yang hampir tiap membolos sekolah. Mungkin pepatah yang cocok untuk saya,”Karena nila setitik rusak susu sebelangah” yang artinya karena ulah si komandan kena tai semuanya (wkwkwkwkw…..).
          Telah bertahun sudah kisah itu berlalu tapi jika terlintas dianganku, hal itu pun masih bisa mengocok isi perutku sejadi-jadinya.
          Kawan…dimanakah kalian semua.
          Aku rindu kebersamaan kita yang dulu.
          Mungkin kini kau telah bahagia dengan istri dan anakmu.
          Mungkin juga, kau masih asyik dengan kisah romantic dengan pacarmu.
          Tapi saya berharap, kamu tak senasib denganku.
          Yang masih menunggu seseorang yang tak jelas.
          Initial D, dimanakah kamu berada?

Baca pula:
Habibie Kecil
Edisi Jalan-jalan
Nama Baru
Penantian
Awal perjumpaan kembali

Minggu, 29 Januari 2012

Habibie Kecil

Lanjutan dari:

  “Pagi anakku,..,bangun yuk. Sekarang dah pagi nih. Adzan subuh sudah memanggil-manggil ade’ tuh”,seru ibuku.
Usapan lembutnya dikepalaku seakan menandakan ketulusan serta keikhlasan darinya. Meski diusia yang masih terbilang “kecil”, ia dengan sabar tak pernah letih untuk membimbing dan mengajariku akan baik dan pentingnya shalat 5 kali sehari. Kini genaplah sudah usiaku yang kelima, dan sekarang saya telah duduk dibangku sekolah dasar. Memang sih, saya lumayan cepat untuk mengenyam pendidikan elementary. Semua itu karena kondisi tubuhku yang pada saat itu lebih “besar” dibanding anak-anak yang lain makanya orangtuaku memutuskan untuk langsung memasukkan saya ke sekolah dasar, mereka khawatir jikalau nanti saya menjadi olok-olokan teman-temanku. Sungguh ia ingin menjaga anaknya ini dari segala fitnah. Walaupun saya belum pernah melewati bangku kanak-kanak, tapi saya tetap bisa beradaptasi dengan yang lainnya.  Jadi dikelasku kala itu, saya adalah siswa termuda diantara semuanya. Tapi meskipun begitu, teman-temanku tetap tidak menganggap itu sebagai perbedaan antara kita.. Di kehidupan masa kecilku, tak pernah sama sekali ku merasakan sebuah kesedihan walaupun hanya sesaat. Kondisi orangtua yang berkecukupan dan status social yang  telah membuat semua itu terbentuk dan menjadikanku sebagai seorang anak yang mempunyai etika dan sikap sopan santun yang menjadikan sebuah “sekat” penghalang yang tebal antara saya dan teman-temanku yang lain. Kulit putih nan bersih, pakaian super rapi serta wajah berseri yang tak pernah tertutupi oleh kesedihan merupakan ciri dari seorang Idin kala itu. Tak begitu banyak teman yang ingin bergaul denganku, mereka merasa minder dan “tak selevel” dengan diriku meskipun aku tak pernah berpikir seperti itu. Namun ku selalu mencoba untuk merakyat dengan mereka semua. Terkadang saya main ke rumah mereka, belajar bersama, bercanda bersama dan saling berbagi dengan mereka semua. Kedekatan itulah yang selalu kupupuk sampai akhirnya kami pun kini telah tumbuh hingga dewasa saat ini.
……^^^^^……
Langit cerah hari itu, aku bangun begitu pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, Perasaan deg-degan senang bercampur cemas menyelimuti hatiku. Seorang bocah 5 tahun ini, kini telah berseragam putih merah dengan dasi yang terikat dileherku serta topi imut yang menutupi kepala seorang calon “Insinyur” muda. Semua murid baru saat itu diantar oleh kedua orangtuanya. Semua ibu mengandeng tangan anaknya dan mengantarnya hingga di depan kelas. Tapi setelah ibu guru memasuki ruangan kelas, para orangtua pun menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam kelas tanpa didampingi olehnya. Banyak yang menangis merengek, takut ditinggal orangtuanya. Begitu tampak kemanjaan dari wajah mereka semua. Namun tak semua murid bersikap seperti itu, ada beberapa anak yang berjalan sendiri ke tempat duduk yang ia sukai dan duduk tegap dibangkunya masing-masing dengan senyuman yang kalem. Salah satu diantara mereka adalah aku(dengan bangga tentunya). Berbeda dengan anak-anak manja itu, saya malah duduk dengan santai akan kemandirian serta kepercayaan diri yang telah ditanamkan oleh orangtuaku.
……^^^^^……
“Selamat pagi anak-anak..”,sapa ibu guruku.
“Pagiiiii ibu guruuu..,,...”,jawab semuanya.
Sambutan yang hangat dengan senyum lebar sangat murah diberikan darinya untuk kita semua. “Nama ibu, ibu Ros”,begitu ibu guru memperkenalkan dirinya. “Mulai hari ini Ibu yang akan mengajar semua pelajaran buat kalian semua”, lanjutnya.
 Setelah itu, dengan panjang lebar ibu guru memperkenalkan dirinya didepan kita semua.
“Sekarang ibu guru mau ajak anak-anakku semua untuk memperkenalkan dirinya satu per satu didepan, biar teman-teman yang lain juga bisa kenal sama kamu”, ibu guru ajak keberanian kami semua.
“Ayo..sapa yang mau?”, lanjut dia dengan nada menantang.
“Ayo..,Ayo..,,”, Provokasi orangtua-orangtua kami yang masih berada diluar ruang kelas.
”Saya bu guru...”,unjuk tangan seorang anak yang ada disisi kanan depan kelas.
“Ayo ke depan nak”, panggil ibu guru.
Dengan beranipun dia maju ke depan.
Tanpa ada ragu sedikitpun ia berjalan ke depan, seakan ia ingin membuktikan kepada seseorang bahwa ia telah besar kini. Tau tidak siapa bocah pemberani itu???
“It’s me....,”
“Yach, itu aku. Muhammad Muhyidin”.
Setelah didepan kelas, saya pun mulai memperkenalkan diriku.
“Nama saya Muhammad Muhyidin dan ayah ibuku sering memanggil dengan Idin”, ucapku.
Dengan sebuah senyuman, saya pun melanjutkan perkenalanku. “Ibu Saya bernama Maryam dan ayah saya bernama Andi. Dan mereka berdua sangat sayang sama saya. Setelah memperkenalkan diri, semua teman-teman baruku pun memberikan tepuk tangannya kepadaku dan tak ketinggalan pula ibuku juga mempersembahkan tepuk tangan kebanggaannya kepada anaknya ini.
“Ayo, siapa lagi yang mau memperkenalkan dirinya?”, ajaklah ibu Ros.
Dengan kepercayaan diri yang tak mau kalah dengan diriku, temanku pun yang satu ini maju dengan PD nya. Namanya Anas, ia anak salah seorang pejabat daerah dikota ini. “Buah tak pernah jauh jatuh dari pohonnya”, mungkin inilah pribahasa yang tepat buat temanku yang satu ini. Meski baru berusia 6 tahun tapi peringainya sudah memperlihatkan wibawa seperti bapaknya, yaitu kecongkakan seorang pejabat. Kalau tentang dia, nanti akan saya ceritakan lagi.
……^^^^^……
Setelah hampir semua murid telah memperkenalkan dirinya, tinggal beberapa siswa lagi yang belum naik untuk memperkenalkan diri. Dan akhirnya seorang siswi yang pemalu itu naik, dengan poni yang mengkhiasi wajahnya dan pipi merah merona serta hiasan manisnya senyum tersirat dibibirnya, membuat siapa saja serasa pengen mencubitnya. Itulah Dila, perempuan anggun yang mungkin pertama aku kenal di dunia ini. Perempuan yang satu inilah yang akan membuat hati ini menjadi rindu setengah mati dan tak tau mesti berbuat apa.  Perempuan yang sekarang tak tau kemana rimbanya kini. Berbagai cara telah ku lakukan untuk mencarinya tapi hingga saat ini belum juga terlihat batang hidungnya. Meskipun dia telah lama meninggalkan diriku tapi sampai detik ini, wajahnya masih saja memenuhi seluruh khayalku. Entah bagaimana kabarnya kini, mungkin ia telah jadi istri orang lain, atau mungkin ia telah pergi mendahuluiku menghadap kepadaNya? Begitu banyak pertanyaan konyol yang timbul bila nama itu terngiang diakalku. Masih kecil kok dah ngomongin perempuan sih…,tapi itulah kenyataannya sob. Berawal dari pertemananku disekolah dulu, tapi kini dia telah berubah menjadi sebuah status pertemanan special atau mungkin bisa juga diistilahkan sebagai pacar khayalan. Pintar, baik hati, pengertian, perhatian, dan masih banyak yang lain lagi. karena itu semua hati ini terasa terpenjara oleh kenangan masa lalu.
……^^^^^……
Sepertinya pembahasan kita sudah terlalu jauh bergeser dari tema, kalau begitu kita kembali lagi pada pembahasan sebelumnya. Tapi, mungkin kita tak perlu membahas terlalu panjang tentang masa kecilku. Cuma ada satu yang mesti dan perlu untuk disampaikan disini, sebuah kenyataan tercatat di masa SD ku dulu, bahwa kala itu saya termasuk seorang siswa berprestasi yang tak pernah skalipun terlupakan namanya didengung-dengungkan dalam upacara penerimaan rapor disekolahku setiap Cawunya.
          Telah menjadi tradisi disekolah ini dihari penerimaan rapor, setiap siswa wajib mengundang orangtuanya untuk hadir disekolah untuk mengambil langsung hasil kerja peras otak anaknya selama satu caturwulan (CAWU). Dalam satu tahun, sekolahku mengadakan acara ini sebanyak 3 kali dalam setahun. Dihari itu pun semua siswa dibolehkan membawa bekal makanan, sebagai tanda kebahagiaan dan kebersamaan dalam pencapaian menyelesaikan ujiannya di kelas cawu ini. Tapi sebelum acara “makan-makan” itu dimulai, ada momen tersendiri yang dinanti-nanti sekaligus paling menegangkan buat para orangtua siswa, yaitu pemanggilan siswa berprestasi maupun siswa yang kurang berprestasi ditengah lapangan upacara. Hal ini merupakan sesuatu yang mempunyai nilai positif yang sangat besar. Di satu sisi, murid-murid akan terpacuh semangatnya agar dapat membuat bangga orangtua mereka disekolah atau sekedar menjaga image orangtuanya dimata orangtua siswa yang lain. Dan sisi yang lain, orangtua akan lebih konsen untuk mendisipilinkan anaknya dalam belajar dan menuntun anak-anak mereka menuju masa depannya. Kalau tidak demikian maka orangtua itu sendiri yang akan malu dengan cibiran orangtua lain yang melihat anaknya masuk dalam “Black List” kali ini.
          Jadi bukan hanya siswa yang saling bersaing dengan prestasinya disini, tapi orangtua pun juga bersaing dalam mempertahankan kehormatannya masing-masing.
          Yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. 3 orang  juara kelas untuk kelas 1 akan segera dipanggil namanya untuk maju ke depan.
          Dengan lantang pun bapak kepala sekolah mengumumkan,
Seru pak kepsek, ” Untuk peringkat ketiga diperoleh Dinda Cahya Lestari.”. tepuk tangan pun langsung bergemuruh.
Lanjut kepala sekolah,” Untuk peringkat kedua jatuh kepada Dila amaliah putri.” kembali gemuruh sorak berdecak. “
Saat yang dinantipun tiba, Lanjut kepala sekolah, ”Dan untuk Peringkat Pertama diperoleh  Muhammad Muhyidin”. dan tepukan tangan pun kembali bergemuruh. Aku pun maju ke depan dengan sedikit malu dilihati oleh banyaknya orang yang hadir saat itu. Saat berdiri disana, ku lihati wajah ibuku dari kejauhan. Senyumnya merekah begitu manis, membuatku tertular oleh senyuman itu dan aku pun ikut tersenyum dibuatnya.
          Hampir 1 jam lamanya upacara itu berlangsung. Setelah selesai, ibuku pun menghampiriku. Senyumnya pun belum hilang dari wajahnya. Sebagai ungkapan kebahagiaannya ia pun mengangkat dan menggendongku lalu berkata,” Ini dia Habibie kecilku”. Aku pun sangat bahagia mengingat masa itu. Untuk kali pertamanya dalam hidupku, membuat bangga kedua orangtuaku didepan khalayak ramai. Mulai saat itulah, banyak yang mengenalku sebagai seorang anak yang pandai.
……^^^^^……
Tahun pun berganti tahun, kini aku tumbuh semakin besar. Kini saya telah duduk dikelas 6 SD dan sebentar lagi saya akan meninggalkan sekolah yang sangat ku cintai ini. Terlalu banyak cerita yang terukir disekolah ini. Masa kecil ku hampir habis kulewati bersama teman-temanku dari sekolah ini, mungkin terlebih kepada “Dia yang tak perlu Ku sebut namanya”. walau dia hanya menganggapku sebagai teman biasa.
……^^^^^……
Ujian akhir sekolah merupakan sebuah ujian yang sangat memeras otak dan mental seorang siswa polos seperti saya. meski hanya berlangsung selama 3 hari tapi ujian kali ini menentukan nasib perjuanganku selama 6 tahun. Banyak sekali persiapan yang kulakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kali ini, baik itu secara pribadi maupun persiapan yang dilakukan sekolah untuk membantu murid-muridnya dalam ujian kelulusan tahun ini. Tumben, sekolah saya ini juga masuk dalam sekolah favorit dikota ini. Ada banyak hal yang dimiliki sekolah ini yang dimana sekolah lain belum memilikinya. Salah satu yang paling special diantaranya adalah grup Drum Band.
Dalam setiap acara 17an maupun kegiatan-kegiatan penting lainnya, grup Drum Band sekolahku selalu menjadi sesuatu yang dinanti semua penonton yang hadir dalam acara itu. Semua personil grup Drum Band ini berasal dari siswa sekolah sendiri. Biasanya dipilih dari kelas 5 dan 6 untuk bisa jadi anggota. Setelah jadi anggota, mereka pun diwajibkan ikut latihan Drum tiap sore di sekitar sekolah, terlebih saat ada momen-momen tertentu. Tak ketinggalan juga, saya pun pernah menjadi salah satu personil grup Drum Band ini. Dan sangat menyenangkan bisa bergabung dalam grup Drum Band ini.
……^^^^^……
Hari ujian pun telah tiba, semua perlengkapan telah sedari kemarin ku persiapkan. Kondisi badan pun ikut ku jaga demi untuk kelancaran saya dalam mengerjakan soal-soal ujian esok. Pagi ini hampir tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya, tapi mengapa hari ini terasa sangat menegangkan buat saya.
“Ade tenang aja yach,”
“Ade pasti bisa kok nyelese’in smua soal-soal ujian itu”,ujar ibuku.
“Sapa dulu dong? anak ibu..!”,lanjut saya dengan bangga.
Ibuku pun mencium dahiku mewakili restunya yang diberikan kepadaku. Optimismeku pun melonjak naik bak roket “SpaceX Falcon 9” yang berhasil tiba di orbit bumi setelah diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station di Florid, Amerika Serikat.
Setelah tiba diruang ujian, ku pun mulai berdoa memanjatkan restu dari Zat yang kuasa atas segala sesuatu, karena ijinNyalah ku dapat seperti saat ini. Dan telah sepantasnyalah aku memohon kepadaNya, karena denganNyalah segala pengetahuan yang dia pinjamkan kepadaku dapat masuk dan membimbing aku dari segala tipu daya dunia.
……^^^^^……
Setelah 3 hari berlalu, akhirnya selesailah semua ujian akhir yang diselenggarakan tahun ini. Tak ada hal yang begitu menghambat dalam ujian kali ini. Semuanya terasa biasa-biasa saja.
……^^^^^……
Dan rasa penasaranku pun bertambah besar akan tingkat pendidikan yang akan saya arungi selanjutnya, SLTP. 6 tahunku bersama sekolah ini terasa baru kemarin, namun terlalu banyak cerita yang terukir ditempat ini. Dan sebentar lagi aku pun akan meninggalkan semua kenangan masa kecilku disini. Dalam kurung waktu hampir 1 bulan lamanya, ku menghabiskan waktuku dengan sebaik-baiknya kepada teman-temanku untuk berkumpul, bercanda bersama sambil menanti hasil ujian kelulusan kita semua. Karena tak menutup kemungkinan kita akan berada disekolah yang berbeda atau mungkin ada diantara kita yang melanjutkan pendidikannya diluar kota. Terutama kepada dirinya, “Dia yang telah mengajari aku akan sesuatu yang tak  dapat terpahami oleh indra ini namun semuanya terasa mati dan kaku ketika dia ada dekatku”.
……^^^^^……
Kenangan tentang dirinya pun akan sangat terasa ketika aku ber”De Javu” akan masa itu, masa yang seakan ingin ku ulangi lagi dalam hidup ini. Namun semua itu hanyalah sesuatu yang mustahil, saya hanya bisa berusaha untuk bisa mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang keberadaannya kini. karena belum pernah terlintas sedikitpun saya akan menyerah untuk menemukan dirinya.

Senin, 14 Februari 2011

Edisi jalan-jalan

Banyak sekali penak yang tertampung dalam akal ini, ingin ku sedikit merefresh kembali agar tak menimbulkan kegalauan dihati. Kali ini di sebuah tempat yang jauh dari langkahku dulu untuk bergelut dengan dunia kampus, ku berada ratusan kilometer dari sana. Banyak sejarah yang telah terekam di tanah ini. Dimana kaum bangsawan dan kaum jelatah bersatu padu dalam sebuah kerajaan yang berdiri sebelum kemerdekaan negri ini. Banyak persepsi yang berkontradiksi di kerajaan itu, namun bagiku hakikatnya hanyalah satu, yaitu kerajaan ini adalah Pahlawan buat negri ini.
Bumi Bone kini banyak berubah dari substansinya. Sudah terlalu banyak aksiden yang mewarnai tempat ini. Baik itu dari segi materinya maupun dari segi non materinya. Teknologi punya banyak peran dalam mengubah negri ini, termasuk di tempat ini. Positif maupun negatif, semua punya bagiannya masing-masing. Dan disini, di kampung halaman nenek moyangku ini telah banyak energi positif dan negatif yang saling berperang memperjuangkan kemenangan untuk menjelaskan sebuah arti tentang kebenaran.
Kedatanganku disini sebagai bentuk perlawanan menjaga kesucian tanah kelahiran nenek moyangku oleh lawan berat kita selama ini yaitu, MEDIA. Teknologi ini merupakan media yang membantu kita menyebarkan banyak sekali informasi yang dulu sangat susah untuk tersampaikan. Ia bagaikan “Pisau Tajam”, tergantung siapa saja yang memakai benda tersebut. Jika benda itu ingin dipakai membunuh, maka pisau itu akan menjadi Iblis pencabut nyawa. Namun jika benda itu ingin dipakai untuk menyembeli hewan kurban maka pisau itu akan menjadi Malaikat pembagi rezki.
Sejuk pagi menyengat kulit keringku. Membangunkan aku dari tidur lelapku. Hari ini aku akan memulai peperangan itu. Di sebuah lingkungan akademik yang diberi nama SMA 2 Libureng. Wadah yang menjadi majelis ilmu buat para pemuda-pemuda setempat. Walau masih terbilang baru, fasilitas yang serba pas-pasan namun semangat pemuda didalamnya sangat membuatku terkagum-kagum dengan suasana ini.
Penyambutan yang sangat menyegarkan, aku disambut dengan ratusan senyum simetris yang tergambar di wajah-wajah lugu itu. Tak kenal lelah, ia terus memberikan senyuman itu bertubi-tubi kepadaku hingga-hingga saya tak dapat menangkisnya satu per satu. Belum kenal saja sudah seakrab ini, bagaimana jika sudah berkenalan. Tak lama berselang, kegiatan itupun dimulai. Karena memang sudah seharusnya kegiatan ini berlangsung Cuma karena kendala komunikasi panitia sehingga kegiatan ini tertunda beberapa menit. Ini memang sudah menjadi budaya nenek moyang yang seharusnya kita buang jauh bukan malah merawatnya.
Hari pertama, sosialisasi. Hanya aku yang tau tentang perkara ini. Berhubung ku dipercayakan untuk menjadi pendamping disini, makanya langkah awal yang harus ku jalani adalah adapt. Melihat kondisi forum yang didominasi oleh kaum akhwad maka saya pun menyusun pola yang tepat buat forum ini. Memang pelatihan kali ini bukanlah yang pertama buat saya tapi setiap tempat haruslah disesuaikan dengan kondisi forumnya masing-masing. Itulah tantangan yang saya hadapi setiap kali menghadapi forum seperti ini. Tak pelak lagi pola pikir yang berbeda sangat jauh antara saya dan peserta, sungguh tantangan yang sangat hebat buat saya. Tapi oleh sebab itulah saya mau berdiri didepan kawan-kawan baruku ini.
Pukul 10 lewat 3 menit, tiba saatnya saya membawakan materiku. Ingin rasanya saya tampil gugup kali ini tapi kenapa kegembiraan menutupi semua itu. Dan semuanya kembali seperti biasanya. Dan bibir ini pun mulai tanpa henti mengoceh dengan bebasnya, meladeni setiap pertanyaan peserta yang diajukan. Inilah salah satu kegembiraan bila saya membawakan materi di sebuah forum, peserta selalu memberikan apresiasi positif yang sangat tinggi buat saya. Sebuah hal yang membuatku bangga menjadi diri sendiri, Azwan...azwan, alangkah beruntungnya dirimu.
Wow...Fantastic, She is Perfect. Kekagumanku pada dia membuat sejenak bumi ini berhenti bergerak. Aku melihat manivestasi keindahanNya didalam dirinya. Ini merupakan hal yang wajar buat seorang lelaki seperti saya tapi tak wajar jikalau ku terpesona oleh silau cahaya dunia. Aku pun menjaga kekagumanku itu, dan hanya Dia yang tahu itu. Seusai kegiatan hari ini, awalnya ingin segera pulang buat melepas lelah tapi tak terduga ia dikejauhan terlihat lagi kekaguman itu, ia duduk sendiri disana. Terpaksa ku buang dulu jauh-jauh sikap jaim itu, ku pun berjalan mendekatinya. Meski hanya duduk disampingnya, hati kering ini sudah terobati oleh rasa haus itu.
Tak terasa waktu telah mengantarkanku dipengujung hari. Lelah pun mengantarkanku dilelap tidur ini. Dipembaringan malam, gelap ruang ini mengajakku menuju ke dunia fantasiku sendiri.
Hari kedua, pagi yang cerah sudah tersenyum menyambut hariku. Pengalaman pertama dalam hidup terjadi di hari ini. Untuk kali pertamanya aku mandi di sebuah mesjid. Berhubung karena dirumah ini belum menyediakan air yang mencukupi untuk rombongan anak perantau ini makanya kita berkeputusan untuk mandi di mesjid itu saja. Ingin rasanya kita tertawa tapi sayang itu tidak lucu buat saya.
Setelah santap pagi, canda tawa pun membawa kita melewati waktu tanpa terasa. Kini tiba lagi saatnya kita untuk beraksi hari ini. Let’s Go...
Pukul 8, kami berangkat meninggalkan rumah. Setiba di tempat, semangat anak-anak muda ternyata sudah sangat menggebu-gebu, lebih hebat dari yang kemarin. Aku pun tak kalah oleh mereka semua, melihat pemadangan seperti itu, motivasi ini pun mendorongku, menopangku, mengangkatku dan roket khayal ini terbang jauh masuk kedalam alam midzalku
. Banyak sekali yang tak bisa teruangkapkan disini namun kejadiannya sungguh nyata terjadi dihadapanku. Hal itu begitu luas untuk dituangkan oleh bibir ini. Coretan tangan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak pengalaman yang saya dapatkan ditempat ini. It’s the best for all, SMA 2 Libureng. Salam hangat selalu buat kalian semua...Kejarlah trus cita-citamu...

Baca pula:
Nama Baru
Penantian

Rabu, 02 Februari 2011

Nama Baru

Dalam sepi gelapnya subuh, sesuatu yang tak terduga namun telah lama menjadi penantian kini menjadi kenyataan. Sesuatu yang sangat mendebarkan jantung ini, seakan akan ingin copot rasanya. Sebentar lagi sepenggal nama baru akan melekat dinamaku. Usaha yang telah lama terjalani saatnya memanen hasilnya. Walau itu bukan menjadi tujuan akhirnya tapi tak bisa dihindari hal itu akan tetap menjadi hasil dari usahaku selama ini. Siapa yang menyangka anak ini akan menjadi seperti ini. Seorang bocah yang dulunya lugu kini telah menjadi sesosok yang berwibawa dengan penuh dedikasi tinggi.
Waktu terasa mengejar-ngejar diriku. Tak ada sedetik pun waktu yang terlewatkan tanpa setetes keringat. Semuanya penuh dengan perjuangan terlebih disaat-saat terakhir ini. Namun letih, lelah itu tak berarti apa-apa buatku. Semuanya terlalu indah jika dibandingkan dengan hasil telah ku peroleh saat ini. Nama itu bukanlah sekedar nama biasa. Nama yang hanya disematkan buat para kaum intelektual saja. Dan mereka atas sedikit bangga dengan namanya itu. Karena nama itu ia dapatkan keringatnya sendiri, dengan usahanya sendiri.
Tak sabar lagi aku ingin melewati masa itu. Tapi kenapa kini waktu itu bergerak semakin lambat dari biasanya. Lucu memang...Kemarin, langkah ini belum bisa berhenti jika belum mendapat kepastian untuk kesempatan itu namun kini kesempatan itu telah didepan mata tapi kini kenapa aku yang ingin mengulurnya kembali. Serasa tak siap, serasa tak sanggup, serasa tak layak, serasa selamanya harus siap,sanggup atau pun layak untuk menghadapi sesuatu itu tapi satu yang pasti yaitu “Aku Ingin Melakukan Itu”. Hanyalah itu yang menjadi modal ku. Percaya diri dengan kapasitas yang sangat terbatas. Dengan kekurangan itu, ku tak ingin memperlihatkan kebodohan yang telah sangat jelas maka dengan itu, ku mencoba memberikan sebuah kelebihan untuk mengalihkan perhatian mereka semua dengan pemandangan yang berbeda dariku.
“Ujian Meja”, itulah istilah yang banyak diketahui warga awam. Bagi seorang mahasiswa, peristiwa itu adalah peristiwa yang sangat sakral dalam agenda akademiknya. Sebuah jalan yang mau tak mau harus dilewati semua mahasiswa diseluruh dunia karena jika tidak, garis Finish yang sudah didepan mata mustahil untuk terlewati. Dan kesempatan untuk mengikuti itu telah diberikan kepadaku. Hari ini masih terasa mimpi buatku. Padahal hari ini tak ada yang berbeda dengan hari-hari yang lain. Cuma, Hari ini akan ada setitik sejarah baru yang akan tertulis di satu BAB dalam buku “Diary” hidup ini.
Ada 3 kawanku yang mendapat kesempatan yang sama denganku. Dan saya mendapat giliran yang terakhir dalam ujian ini. Detik berganti menit dan menit pun berganti jam tiba kini kesempatanku.
Uh....Lega rasanya. 90 menit pun telah berlalu di ruangan yang sejuk namun membuatku berkeringat didalamnya. Haru bermixing bahagia homogen dalam setiap volume hati ini. Walau hanya berinvest senyum, sudah cukup membuat seluruh dosen pengujiku memberikan gelar itu untuk disematkan dibelakang namaku.
Kini bertambahlah sebuah kata dibelakang namaku, Azwan Andi Muh. Azis, ST.

Baca pula:
Edisi Jalan-jalan
Penantian

Senin, 13 Desember 2010

Awal perjumpaan kembali


Dimalam penuh hening setelah gemercak keseruan yang terhapus oleh berlalu waktu. Sebenarnya sangat sulit menuangkan sejarah indahku disini. Bila ingin ku ibaratkan, seakan ingin menumpahkan sebuah sanudra ke dalam kolam ikan yang sempit. Meski hanya 40 hari lamanya namun semuanya terasa berabad lamanya. Yang mengherankan lagi baru kemarin saya datang di tempat ini namun esok hari perpisahan pun menanti kami. Disini, di tempat saya duduk ini, penaku menari mengikuti irama rasa yang ku pendam selama ini. Ada risih, ada haru, ada suka, ada sedih, optimis, gundah, ceria, galau, happy, semua bercampur menjadi satu. Jika ingin memisahkan itu semua, serasa ingin memisahkan antara air, gula dan tes dalam segelas teh manis. Semuanya saling mengisi dan tak akan sempurna perkenalan ini tanpa hadirnya itu semua. Sebelum saya melanjutkan curahan hati ini, ijinkan saya memperkenalkan sedikit deskripsi teman – teman saya disini.
At first, Tini. Dia orangnya…??? Sebenarnya saya kurang tau juga sih. Soalnya jeng Tini hanya sempat nginap disini selama 2 malam dalam kurung waktu 40 hari. But,,,It’s Okey….,semua ada toleransinya bagi saya.
Yang kedua, K’maemunah tapi lebih sering dipanggil Daeng Labbi’. kalau bicara soal Daeng Labbi’ kayaknya nda beda jauh ceritanya dengan adiknya (Tini), karena…(Just information) daeng labbi’ sekarang punya baby kecil. This is good Re….nt
Dan saya sendiri, Azwan. orangnya egois, pemarah, sombong, narsis and masih banyak lagi sifat negative yang saya punya. Tapi semua itu saya sadari jadi saya hanya berusaha untuk mengubah sikap itu.
Eh… Hampir lupa…!!!!
Dia memang hampir terlupakan dari kisah tapi sekarang dia sudah menjadi orang yang tak pernah terlupakan. Dipengujung perjalanan ini, ada sebuah “Accident” yang mungkin tak perlu saya katakana disini. Namun karena semua kejadian itu, hal yang tadinya sudah hamper terputus kini telah terikat kuat dan sangat susah untuk terpisahkan lagi. Namanya Faradila Kilkoda. Selama ini dialah yang paling banyak memberikan pengalaman berharga buat saya. Kebersamaan selama ini telah memasukkan dia ke dalam cerita hidup ini. Karakter baru yang unik dan baru kini saya temukan sosoknya.
Inilah awal perjumpaan kita kembali. kerinduan akan kebersamaan telah menanti dimana perjumpaan selalu diakhiri oleh perpisahan. meski hanya sekedar perpisahan sementara tapi tetap perasaan itu terasa sangat menyakitkan. Jiwaku dengannya kini telah menyatu bak roh dan raganya jadi alangkah sewajarnyalah jika rasa itu terasa sangat perih. Mungkin hampir menyamai sakitnya seseorang yang akan segera meregang nyawa. Begitu banyak cerita yang dialami bersamanya. Bukan perjumpaan yang ku sesali tapi perpisahan yang ku tangisi. Kini semuanya telah kembali seperti sediakala.

Baca pula:

Habibie Kecil
Edisi Jalan-jalan
Nama Baru
Penantian

Sabtu, 31 Juli 2010

Penantian

Sebuah malam kelabu nan sepi. Diatas sana terpampang jelas cahaya purnama bulat sempurna menandakan keindahanNya. Tak lama kemudian sebuah awan hitam berkabut pun datang menghampiri sang bulan dan menutupi sebagian sisi bulan dari pandangan mataku. Setelah sebelumnya Dia telah menampakkan salah satu bentuk keindahanNya dari sinar bulan nan terang, kini tampaklah sebuah keindahanNya yang lain dari pemandangan yang sangat sempurna. Namun kedalaman makna dari sebuah manifestasi dariNya terkadang tidak mampu untuk dicerna oleh akal lugu makhlukNya, Manusia.
Wajah tampan nan rupawan, kulit putih , halus nan lembut, body atletis dengan gaya yang necis. Itulah sepintas deskripsi diriku kawan (Sombong banget kan ngomongnya). Saya seorang mahasiswa semester akhir yang tengah menyusun tugas skripsiku. meskipun sudah berstatus nol kredit tapi masih saja motorku jadi kendaraan pertama yang terparkir didepan fakultasku setiap hari. Tiap pagi Si Jupi  dengan setia mau nganterin saya kemana saja dan kapan saja saya mau. (Jangan salah sangka dulu)Si Jupi  bukanlah siapa-siapa kawan, dia adalah motor kesayanganku dan begitulah saya biasa memanggil kuda besiku itu. Jurusan teknik kimia, ialah jurusan yang telah bersedia menampungku untuk menimba ilmu diperguruan tinggi ini. Walau telah agak berbeda dengan profesiku kini tapi sedikit tidaknya sudah memberikan tambahan pengetahuan buat saya. Dan dari tempat ini pulalah berawal pencarianku terhadap keindahan yang hakiki itu. Pencarianku ini tak semudah membalikkan telapak tangan butuh banyak sekali pengorbanan baik datangnya dariku sendiri maupun kedua orangtua yang telah berjuang untuk masa depanku. Dan semuanya dimulai dari sini.
……^^^^^……
Dalam penanggalan masehi, hari itu tepat pada hari Rabu 22 April 1988 adalah hari yang begitu menegangkan dan mungkin akan menjadi hari yang paling bersejarah buat seorang perempuan cantik yang menanti kelahiran seorang bayi kecil nan lucu yang telah lama dikandungnya. Meski akan sangat menyakitkan buatnya, tapi ia sangat memberikan begitu besar harapan terhadap impiannya itu agar terlahir dengan normal seperti layaknya anak-anak yang lain. Setelah 9 bulan 10 hari dikandungnya, tibalah saatnya untuk mengakhiri sebuah penantiannya itu. Tak jauh berbeda keadaan yang dialami oleh sang suami tercinta, jantungnya berdebar bak gempa bumi yang melululantahkan Somalia pada tahun 2009 lalu. Ratusan korban jiwa berjatuhan disana, begitu juga dia yang ribuan urat sarafnya seakan mati kaku disegujur tubuhnya, membuat seorang pria yang tegap dan kuat dalam segejap tergulai lemas dalam kekhawatiran. Gelisah sangat nampak dalam raut wajahnya ketika ia berdiri di depan ruang bersalin sembari tak henti-henti lidahnya melafazkan sebuah ayat Tuhan dari Q.S Al Imran 38, yang dahulu doa yang sama pernah dibacakan oleh Nabi Zakaria AS dalam pengharapannya kepada Sang Maha Pencipta untuk seorang anak yang telah lama dinanti-nantinya. Dia sangat khawatir dengan keadaan istri dan calon bayi yang akan menjadi buah hati pertamanya itu.
……^^^^^……
Waktu berganti begitu cepat, khayalnya melayang entah kemana. Namun tak terasa, tak berapa lama menunggu, terdengarlah suara jeritan seorang bayi. Bayi mungil, merah nan imut dan tentu saja sehat telah terlahir, membuat dia tersenyum sipu, memecah suasana tegang dan cemas saat itu juga. Sangat terasa kegalauan yang terjadi beberapa saat yang lalu namun sekarang telah berubah menjadi senyum bahagia yang tersirat dari bibir seorang suami yang kini telah berganti status menjadi seorang “AYAH”. Ia pun dengan segera melihat keadaan istri dan anaknya, beserta keluarga yang saat itu juga telah ikut menanti kehadiran sesosok mungil itu.
Anak itu telah dirawat sepuluh tahun sebelum ia terlahir didunia ini. meski baru hari ini ia mengaktual ke alam ini menjadi sebuah wujud yang nyata tapi sebenarnya ia telah lama ada didalam lupuk hati sepasang kekasih ini, yang telah menjadi orangtuaku saat ini. Sebuah perjalanan panjang yang ditempuh dengan penuh semangat dan kasih, serta rintangan yang tak henti menghampiri membuat ikatan cinta keduanya semakin kuat dan sangat sukar untuk terlepaskan lagi. Sebelum keduanya duduk di sebuah pelaminan, cobaan itu terasa sangat sulit untuk mereka lewati tapi begitulah Tuhan telah memperlihatkan jalanNya. Sebuah rencana yang super sempurna. Meski hubungan yang berawal tanpa  restu orangtuanya, tapi karena kegigihan keduanya kini mereka berdua pun telah menjadi sepasang suami istri. Karena mereka selalu yakin akan pendiriaannya, selalu yakin akan rasa yang ia miliki, rasa yang membekali mereka dengan kekuatan dan ketulusan, orangtuanya pun menjadi luluh untuk memberikan restunya itu. Demi kebahagiaan seorang anak, ego seorang bapak akhirnya hancur lebur oleh cinta seorang lelaki sejati untuk kekasihnya. Cinta yang tak bertepi.
Aku memang wajib bersyukur kepadaNya, karena begitu banyak liku dalam proses kelahiran bayi yang satu ini. Sampai-sampai saya tak tau, dirahim siapakah saya akan terbentuk. Skenario yang tak mudah ditebak endingnya akan seperti apa. Tapi, semuanya telah terjawab sudah, Sang Sutradara hidup telah menunjuk actor yang tepat buat peran seorang Ibu. Aktris yang cantik itu berperan sangat baik sebagai ibuku dan telah melahirkanku ke dunia ini.
“Dan,
Aku pun hadir disisinya.,.
Menjawab penantiannya yang telah lama,”
……^^^^^……
“Muhammad Muhyidin”, itulah nama yang menjadi kado pertama yang diberikan seorang ayah kepada anaknya. Sebuah nama sebuah cerita, yang akan tercatat dalam Diary hidupku. Namun nama itu bukan sekedar nama. Kata ayahku selalu, “Jika kau tau historisnya nama itu, maka kau membusungkan dada dan bangga punya nama seperti itu. Pria itu memang selalu lebay jika menceritakan kisah hidupnya, terlebih bila ia membuat sebuah keputusan yang saat itu sangat dibutuhkan. Yach, itulah ayahku. Kalau mau tau ceritanya yang lebih lebay, nanti deh aku ceritakan lagi.
……^^^^^……
Dalam setiap nama mengandung suatu makna yang akan menjadi sebuah doa yang akan menyelimuti sang pemilik nama dalam setiap langkah hidupnya. Saya akan menjelaskan sedikit mengapa ayahku memberikan nama itu kepadaku. “Muhammad” adalah seorang tokoh dunia yang sangat dipuja dan puji baik oleh umat muslim maupun non muslim. Terlebih kepada umat Islam, dalam setiap ibadahnya, namanya tak pernah lupa dilafazkan untuk dikirimkan salawat kepadanya demi meminta shafaat atas kesucian pribadinya. Karena beliau merupakan sosok yang mempunyai akhlak yang diatas rata-rata manusia biasa. Ia adalah seorang Imam, seorang Presiden, seorang Panglima perang, seorang bapak dan seorang suami yang selalu professional dalam setiap kedudukannya. Saya mengatakan seperti itu karena Ia memang pantas untuk menjadi kiblat umat manusia dalam hal bersikap serta bertutur. Kesopanan dalam setiap perbuatan beliau mencerminkan sebuah kesempurnaan dari-Nya yang dimanivestasikan dalam bentuk sebuah makhluk. Itulah mengapa ayahku menyematkan nama itu di depan namaku. Agar ayahku, orang-orang disekitarku dan aku sendiri selalu mengingat dan bersalawat kepada beliau.
Tapi saya merasa sangat berat hati dengan beban nama yang diberikan ayahku itu. Perbedaan yang sangat mencolok antara sosok beliau dengan diriku, bagaikan langit dan bumi. Atau bahkan bagaikan air dan api, yang tak akan pernah bertemu dalam satu wujud. Dengan ikhlaspun aku menerima itu, sebagai tanda kesyukuranku atas keimanan yang diberikan Tuhan kepada ayahku. Saya hanya bisa berdoa, “Semoga apa yang menjadi keinginan ayahku dapat terpenuhi, dan aku pun selalu disertai doa ayahku dalam setiap tingkah lakuku”.
……^^^^^……
Sedangkan “Muhyidin”…..???
“Nama yang biasa saja bagi saya”,
Tapi, itu dulu. Sekarang tidak lagi.
Awalnya Saya juga kurang mengerti mengapa ayah memberiku nama itu namun setelah lama ku meresearch nama itu, ternyata ayahku yang hobi membaca itu, sangat fans dengan seorang penulis yang bernama “Muhyidin Jaylani”. Buku-bukunya yang kebanyakan bertemakan tentang “Cinta” itu, sangat mudah memesona hati seorang pemuda yang tengah dimabuk “Asmara”, apalagi tatkala saat itu ayahku masih berumur 20-an.
Banyak sekali pelajaran yang diberikan “Muhyidin Jaylani” melalui buku-bukunya kepada ayahku, sampai-sampai ayahku bisa diberi gelar “Suami Paling Romantic Sedunia”. Kata-kata puitis yang biasa diberikan untuk ibuku, sering membuat ibuku  tersipu malu sendiri dan dia kadang melakukan itu di depanku. Meski begitu, saya pun sangat bahagia melihat hubungan kasih sayang yang tampak dari tingkah laku mereka berdua. Saya sangat bersyukur terlahir dari rahim ibuku, kepatuhan selalu saya berikan untuknya sebagai bentuk kesyukuranku kepadaNya. Dalam setiap ibadah dan dzikirku kepadaNya, tak pernah kulupa untuk slalu mendoakan keduanya. Walau mungkin sampai saat ini saya belum bisa memberikan kebahagiaan kepada keduanya tapi saya selalu berusaha untuk tidak berbuat suatu tindakan yang akan mengisi perasaan orangtuaku dengan kesedihan ataupun kekecewaan.
……^^^^^……
“Alhamdulillah……lahir juga kau, anakku”. Itulah ungkapan pertama ibuku, yang membuat semua orang terharu pada saat itu. Dengan gembira ayahku mengecup kening ibuku yang masih lelah dengan persalinan yang baru saja ia lakukan, tanda kebahagiaan tiada tara dan kebanggaan kepada istrinya. Saat itu juga ayahku membisikkan adzan di telinga kananku dan iqamat di telinga kiri, sangat terasa merdu mengalir di dalam tubuhku, begitu menghayati seperti ingin menjadikanku seorang anak yang tak gentar menghadapi masa depanku kelak. Ibuku yang sangat lesu dengan proses kelahiranku begitu terobati dengan melihat sosok yang menangis ini, bahagia akan kedatanganku didunia yang kedua ini.
Di saat semua orang menyambut bahagia kedatanganku, akal kosongku berusaha keras mengingat masa lalu didunia rahimku dulu. Dalam tangis, Kuingin mengisyaratkan kepada semuanya, namun tak ada seorangpun yang mengerti maksud tangisanku itu. Tapi ayahku yang mencoba mengingatkan aku dengan diriNya, dengan mencoba membisikkan suatu kalimat melalui telingaku, namun kata-kata itupun terasa asing bagiku. Dengan khusu’ ayahku melafazkan kata per kata kalimat per kalimat, namun itu semua masih terasa hampa buatku. Tak ada satu katapun yang aku mengerti dari rangkaian kalimat itu, sungguh sangat berat maknanya.
Ingatan kala itupun sangat terasa baru buatku, memori yang menyimpannya masih sangat baik, dengan akal yang masih segar. Namun pengetahuan yang datang dariNya kini telah Ia ambil kembali karena tak ada yang mustahil bagiNya. Ia Maha Mengetahui lagi Maha Berkehendak Atas Segala Sesuatu. Saat ini ku harus meRestart kembali akalku yang terasa kosong tapi telah terisi dengan fitrah suciNya.
……^^^^^……
Belum cukup satu jam setelah kelahiranku, semakin banyak sanak keluarga maupun kerabat dari ibu dan ayahku yang datang ke tempat ini baik sekedar untuk melihat diriku, maupun untuk memberikan selamat buat ibu ayahku.
……^^^^^……
“Ibu….,istrahat dulu yach”, Ucap seorang dokter yang baru masuk dalam ruangan itu.
“kalau bisa yang lain boleh kluar dulu dari ruangan ini biar ibu nya bisa istrahat dengan baik”, lanjut si dokter.
Maka dengan terpaksa semuanya pun meninggalkan ruangan itu dengan rasa lega dan syukur telah menyaksikan keadaan ibuku saat itu. Terlebih kepada ayahku, kini tak ada lagi tanda kepanikan dan kegelisahan yang tadi sangat jelas nampak dari wajahnya.
Diluar ruang bersalin itu, terlihat kursi besi, berwarna hitam berukir indah yang terduduk damai disana serta rerumputan hijau yang tumbuh bersemi ditaman-taman rumahsakit itu seakan mengucap selamat kepada ayahku dan ikut merasakan kebahagiaan yang  dirasakan ayahku. Tak ayalnya, semua jenis makhluk yang berada di alam semesta ini berdzikir kepadaNya dan mereka semua tidak pernah lupa dan khilaf dari kekuasaanNya.
Sesuai dengan firman dariNya ;
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”, Q.S Al Hajj ayat 18.
Sebuah tanda akan kekuasaanNya.
……..^^^^^……..
Keesokan harinya, ibuku telah kembali pada kondisinya yang sehat wal Afiat. Dan dengan keadaannya yang seperti itu, ayahku memutuskan untuk membawa pulang aku dan ibuku kembali ke “My Home Sweet Home”, istana yang telah menjadi saksi bisu akan metamorphosis cinta yang berkembang dan bersemi didalamnya. Meski sering ditinggal pergi kekasih hatinya, Si istri shaleha yang menetap didalamnya selalu menjaga kehormatan sang suami yang keluar untuk mencari rezkiNya yang bertebaran dimuka bumi ini.
“Ummi ….”, itulah sapaan akrab yang sering aku berikan untuk ibuku. Ia adalah salah satu tokoh perempuan yang telah memberikan dan memperkenalkan kepada saya akan nikmat dan indahnya kedamaian dalam cinta yang membiaskan sinar-sinar kasih sayang bagi seluruh ciptaan yang berpijak di alam semesta ini. Ia tak pernah lelah untuk membimbingku dalam setiap langkah masa depanku, iapun selalu empati dalam setiap masalah yang kualami, ialah sesosok ibu yang telah memberikan segenap rasa dalam dirinya untuk dioleskan ke hati yang hampa ini dan belum pernah menjamah cinta yang suci dari diri Sang Pemilik Cinta.
Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang luar biasa yang pernah ada dibumi ini untuk saat ini dan ia bernama “Maryam”. Sebuah nama yang sebelumnya telah banyak dikenal khalayak ramai sebagai seorang perawan  yang telah melahirkan seorang Nabi dari rahimnya yang masih suci dan belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Meski dulu banyak yang mengolok-olok dan mencaci maki akan keadaannya itu, namun ia tetap sabar dan kuat akan cobaan yang diberikan olehNya.
Bunda “Maria”, itulah panggilan dia dikalangan umat nasrani saat ini. Meski banyak perbedaan sejarah dan pemahaman antara umat nasrani dan muslim tapi keduanya masih tetap sama dalam menilai sosok “Mariam”. Selain karena ia adalah seorang ibu dari seorang nabi (Yesus), ia juga adalah seorang perempuan tauladan yang selalu menjaga esensi dirinya dan akan selalu bisa menjadi kiblat buat perempuan-perempuan pada saat ini hingga akhir zaman nanti. Mungkin ibuku tak jauh berbeda dengan “Maryam” yang satu itu, meskipun ia hanya aktif sebagai seorang ibu rumah tangga tapi karena keprofessionalannya dalam bekerja, ia telah menunjukkan sesuatu yang berbeda dan belum bisa ditunjukkan oleh sebagian besar ibu rumah tangga kita saat ini. Dari segi strata pendidikan, ia tak kalah dengan lulusan S1 lainnya. Ia juga bisa dikatakan “Lumayan” untuk menjadi seorang wanita karier yang berkutat dengan kesibukan yang tiada habisnya. Namun ibuku lebih memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan dengan profesi itu, ia telah membuktikan kepadaku akan pentingnya “Jabatan” yang ia emban saat ini. Bagiku, masa depan sebuah bangsa, berawal dari sebuah hasil kerja seorang ibu. Karena tanpa kawalan, tuntunan, dan bimbingan dari seorang ibu, mungkin kita semua akan terlena dan terperosok dalam lubang kegagalan. Ia memang hanya berada didalam rumah dan tak bisa selalu ada disamping kita tapi karena kasih sayang dan kepercayaan yang dia berikan yang telah menjaga tingkah laku dan sikap kita diluar rumah. Masa transisi yang menjadi priode yang amat penting buat seorang anak, dapat kulalui dengan baik, dalam membentuk karakter kedewasaanku saat ini. Semuanya disebabkan oleh sesosok dirinya, yang slalu ada bak sang pecinta yang tak pernah lepas cinta kasihnya dari pelukan sang kekasih.
……^^^^^……

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan,terlewati begitu cepat bagiku dan kini telah genap sudah setahun pertamaku didunia ini. Sampai-sampai saya sangat sulit untuk mengingat masa itu. Ini adalah anniversary hidupku yang pertama, dan saat itu kedua orangtuaku telah membuatkan pesta kecil-kecilan buatku. Meskipun saat itu belum bisa ku berlari dan meloncat riang akan perayaan ulangtahunku tapi dengan mengingat sejarah saat itu, ku merasa sangat gembira dan bersyukur. Dalam sebuah bingkai foto yang telah kusam, ku melihat sebuah kebahagiaan diwajah kedua orangtuaku saat itu. 25 tahun sudah kenangan itu telah berlalu namun masih terasa hangat dalam ingatanku.
……^^^^^……
“Ayo nyanyi sama-sama ya,,,sorak ibuku.
“Selamat ulang tahun..,
Selamat ulang tahun,..,..Selamat uuuuulang taahuuun iidin,
Smoga panjang umur,,,,,,,,,,,,,,,,”,smuanya pun serempak bertepuk tangan setelah menyanyikan lagu itu bersama-sama.
Banyak sekali keluarga, rekan-rekan kerja ayahku, serta tetangga yang ikut meramaikan kebahagiaanku saat itu. Ribuan senyuman didiskon habis-habisan saat itu. Tak ada beban sedikit dalam hati segenak yang hadir ditempat itu. Dalam kesibukan, ibuku tak pernah mau melepaskan aku dalam pelukannya. Meski banyak sekali yang ingin menggendongku saat itu namun ibuku tak pernah mau melepaskan aku dari pelukannya, seakan aku adalah buah hati yang sangat bernilai harganya buatnya sampai-sampai tak boleh ada seorangpun yang boleh untuk menyentuh permatanya itu.
Dan ciumannya dikeningku bak hujan deras yang runtuh, menerpa dan membanjiri bumi ini dari segala penjuru arah. Belaiannya sehalus kapas yang halus nan putih yang meraba kepalaku. Sungguh sebening empun kasih sayangmu.
Itulah yang membentuk diriku sampai bisa sedewasa saat ini. Namun semua itu tidak sebegitu saja terjadi pada keadaan ibuku. Hukum kausalitas sangatlah berlaku didunia ini, bahwa setiap akibat yang terjadi pastilah berasal dari sebuah alasan atau sebab. Menurut beberapa ahli psikolog dunia, kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya adalah bentuk apresiasi sang ibu terhadap kasih sayang yang diberikan oleh suaminya, so….smua itu berawal dari ayahku. Karena sebentuk cinta yang tulus dari dirinya yang telah membuat ibuku merasakan sebuah “rasa” yang sangat menyenangkan serta memuaskan jiwa yang telah lama kosong dari sebuah kasih seorang makhluk adam, alasan itulah yang membuat ibuku bersikap selembut saat ini.
……^^^^^……
“Ibumu ..,
 Ibumu ..,
 Ibumu .., lalu Ayahmu. . . , “Itulah salah satu pesan dari seorang Rasul kepada umatnya. Ia lebih menekankan pemberian 3 kali lebih banyak kasih sayang dan penghormatan untuk seorang ibu dibanding seorang ayah. Setelah sekian banyak pujian yang tertuju pada ibuku, tak boleh terlupakan andil penting dari seorang ayah.
Mungkin inilah saatnya memperkenalkan sedikit tentang ayahku. Dia adalah seorang terpelajar, dan ia bernama Andi. Meski dia orang dia Jawa Tulen tapi ayah saya juga lancer berbahasa Bugis, dan ngerti bahasa Makassar juga mandar. Wajarlah, ayahku sudah 20 tahun tinggal di Sulawesi. Meski begitu, “Leggowo”nya masih saja terjaga dengan baik. Akhlak yang ia selalu tunjukkan terhadap kami semua sebagai seorang kepala keluarga sangatlah pantas untuk menjadikan ia contoh buat istri dan anaknya.
Pengetahuan yang ia miliki seakan membimbing dirinya dalam bertindak dan bersikap. Pengalaman yang telah menumpuk bak ratusan juta butiran pasir yang terhampar luas dilautan biru nan jernih, sejernih hatinya. Perjalanan hidup beliau tidaklah mudah, untuk mencapai kesuksesan yang ia telah capai sekarang ini telah beribu ton cucuran keringat yang keluar dari pori kulitnya ,  berjuta Horsepower kekuatan yang  ia keluar dalam perjuangannya serta tak terhitung lagi betapa banyak materi yang ia keluarkan untuk memberikan sebuah bintang impian buat seluruh anggota keluarga besarnya kala itu. Beban keluarga yang telah jatuh dipundaknya, kini ia emban setelah sang bapak yang dulu berperan sebagai tulang punggung keluarga telah lebih dulu kembali disisiNya dengan damai. Namun kini keadaannya tak lagi sekuat dan setegap dulu. Begitu banyak warna warni hidup yang telah ia torehkan, mulai dari hitam kelamnya sebuah penderitaan hingga hijau teduhnya kesejahteraan hidup, yang sampai saat ini bisa menaunginya beserta seluruh anggota keluarganya. Sekarang tiba saatnya untuk membayar hutang jasa dan materi itu. Meskipun ia tak pernah terpikir untuk menagih itu, tapi sebagai tanda terimakasih yang tulus kepadanya kan kuwujudkan impian yang dari dulu telah ia tanam di benakku. Aku kini telah beranjak dewasa dan sedikit demi sedikit ingin mengganti peran ayahku saat ini. Meski saya tak sehebat ayahku dulu, tapi ketulusan dan keikhlasan yang bisa memberikan kebahagiaan buat kedua orangtuaku. Karena bukan kuantitas yang dituntut oleh mereka tetapi kualitas kasih sayang tulus yang penuh harap selalu dinantikan datang.
 
Baca pula: