Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2013

Biografi Sang Mekanika Klasik, Sir Isaac Newton


Sir Isaac Newton adalah satu dari sedikit manusia jenius di muka bumi. Newton identik dengan hukum gravitasi dan sampai detik ini dunia tetap mengabadikan temuan dan karyanya sebagai fondasi perkembangan teknologi dan peradaban manusia. Seperti kebanyakan ilmuan tempo dulu, keahlian Newton begitu komplit. Ia adalah pakar fisika,pakar matematika,pakar astronomi,natural filsof dan ahli kimia. Bukunya Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica menjadi karya Newton paling populer yang menjadi peletak dasar ilmu alam. 

Buku ini meletakkan dasar-dasar mekanika klasik. Dalam karyanya ini, Newton menjabarkan hukum gravitasi dan tiga hukum gerak yang mendominasi pandangan sains mengenai alam semesta selama tiga abad. Newton berhasil menunjukkan bahwa gerak benda di Bumi dan benda-benda luar angkasa lainnya diatur oleh sekumpulan hukum-hukum alam yang sama. Ia membuktikannya dengan menunjukkan konsistensi antara hukum gerak planet Kepler dengan teori gravitasinya. Karyanya ini akhirnya menyirnakan keraguan para ilmuwan akan heliosentrisme dan memajukan revolusi ilmiah. 

Dalam bidang mekanika, Newton mencetuskan adanya prinsip kekekalan momentum dan momentum sudut. Dalam bidang optika, ia berhasil membangun teleskop refleksi yang pertama. dan mengembangkan teori warna berdasarkan pengamatan bahwa sebuah kaca prisma akan membagi cahaya putih menjadi warna-warna lainnya. Ia juga merumuskan hukum pendinginan dan mempelajari kecepatan suara. Dalam bidang matematika pula, bersama dengan karya Gottfried Leibniz yang dilakukan secara terpisah, Newton mengembangkan kalkulus diferensial dan kalkulus integral. Ia juga berhasil menjabarkan teori binomial, mengembangkan "metode Newton" untuk melakukan pendekatan terhadap nilai nol suatu fungsi, dan berkontribusi terhadap kajian deret pangkat. 

Sampai sekarang pun Newton masih sangat berpengaruh di kalangan ilmuwan. Sebuah survei tahun 2005 yang menanyai para ilmuwan dan masyarakat umum di Royal Society mengenai siapakah yang memberikan kontribusi lebih besar dalam sains, apakah Newton atau Albert Einstein, menunjukkan bahwa Newton dianggap memberikan kontribusi yang lebih besar. 

Biografi 
Isaac Newton lahir 4 Januari 1643 di Woolsthorpe-by-Colsterworth, sebuah desa di county Lincolnshire. Pada saat kelahirannya, Inggris masih mengadopsi kalender Julian, sehingga hari kelahirannya dicatat sebagai 25 Desember 1642 pada hari Natal. Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur; dilaporkan pula ibunya, Hannah Ayscough, pernah berkata bahwa ia dapat muat ke dalam sebuah cangkir (≈ 1,1 liter). Ketika Newton berumur tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan neneknya, Margery Ayscough. Newton muda tidak menyukai ayah tirinya dan menyimpan rasa benci terhadap ibunya karena menikahi pria tersebut, seperti yang tersingkap dalam pengakuan dosanya: "Threatening my father and mother Smith to burn them and the house over them." 

Sejak usia 12 hingga 17 tahun, Newton mengenyam pendidikan di sekolah The King's School yang terletak di Grantham (tanda tangannya masih terdapat di perpustakaan sekolah). Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya. Kepala sekolah King's School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan. 

Pada Juni 1661, Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge sebagai seorang sizar (mahasiswa yang belajar sambil bekerja). Pada saat itu, ajaran universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Pada tahun 1665, ia menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi kalkulus. Segera setelah Newton mendapatkan gelarnya pada Agustus 1665, Universitas Cambridge ditutup oleh karena adanya Wabah Besar. Walaupun dalam studinya di Cambridge biasa-biasa saja, studi privat yang dilakukannya di rumahnya di Woolsthorpe selama dua tahun mendorongnya mengembangkan teori kalkulus, optika, dan hukum gravitasi. Pada tahun 1667, ia kembali ke Cambridge sebagai pengajar di Trinity. 

Masa Dewasa 
Kebanyakan ahli sejarah percaya bahwa Newton dan Leibniz mengembangkan kalkulus secara terpisah. Keduanya pula menggunakan notasi matematika yang berbeda pula. Menurut teman-teman dekat Newton, Newton telah menyelesaikan karyanya bertahun-tahun sebelum Leibniz, namun tidak mempublikasikannya sampai dengan tahun 1693. Ia pula baru menjelaskannya secara penuh pada tahun 1704, manakala pada tahun 1684, Leibniz sudah mulai mempublikasikan penjelasan penuh atas karyanya. Notasi dan "metode diferensial" Leibniz secara universal diadopsi di Daratan Eropa, sedangkan Kerajaan Britania baru mengadopsinya setelah tahun 1820. Dalam buku catatan Leibniz, dapat ditemukan adanya gagasan-gagasan sistematis yang memperlihatkan bagaimana Leibniz mengembangkan kalkulusnya dari awal sampai akhir, manakala pada catatan Newton hanya dapat ditemukan hasil akhirnya saja. Newton mengklaim bahwa ia enggan mempublikasi kalkulusnya karena takut ditertawakan. Newton juga memiliki hubungan dekat dengan matematikawan Swiss Nicolas Fatio de Duillier. Pada tahun 1691, Duillie merencanakan untuk mempersiapaan versi baru buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica Newton, namun tidak pernah menyelesaikannya. Pada tahun 1693 pula hubungan antara keduanya menjadi tidak sedekat sebelumnya. Pada saat yang sama, Duillier saling bertukar surat dengan Leibniz. 

Pada tahun 1699, anggota-anggota Royal Society mulai menuduh Leibniz menjiplak karya Newton. Perselisihan ini memuncak pada tahun 1711. Royal Society kemudian dalam suatu kajian memutuskan bahwa Newtonlah penemu sebenarnya dan mencap Leibniz sebagai penjiplak. Kajian ini kemudian diragukan karena setelahnya ditemukan bahwa Newton sendiri yang menulis kata akhir kesimpulan laporan kajian ini. Sejak itulah bermulainya perselisihan sengit antara Newton dengan Leibniz. Perselisihan ini berakhir sepeninggal Leibniz pada tahun 1716. 

Newton umumnya diakui sebagai penemu teorema binomial umum yang berlaku untuk semua eksponen. Ia juga menemukan identitas Newton, metode Newton, mengklasifikasikan kurva bidang kubik, memberikan kontribusi yang substansial pada teori beda hingga, dan merupakan yang pertama untuk menggunakan pangkat berpecahan serta menerapkan geometri koordinat untuk menurunkan penyelesaian persamaan Diophantus. 

Ia dipilih untuk menduduki jabatan Lucasian Professor of Mathematics pada tahun 1669. Pada saat itu, para pengajar Cambridge ataupun pengajar Oxford haruslah seorang pastor Anglikan yang telah ditahbiskan. Namun, jabatan profesor Lucasian mengharuskan pula pejabatnya tidak aktif dalam gereja. Oleh karena itu, Newton berargumen bahwa ia seharusnyalah dibebaskan dari keharusan penahbisan. Raja Charles II menerima argumen ini dan memberikan persetujuan, sehingga konflik antara pandangan keagamaan Newton dengan gereja Anglikan dapat dihindari. 

Dari tahun 1670 sampai dengan 1672, Newton mengajar bidang optika. Semasa periode ini, ia menginvestigasi refraksi cahaya, menunjukkan bahwa kaca prisma dapat membagi-bagi cahaya putih menjadi berbagai spektrum warna, serta lensa dan prisma keduanya akan menggabungkan kembali cahaya-cahaya tersebut menjadi cahaya putih.

Dari http://exotizone.blogspot.com/2012/02/sir-isaac-newton-ilmuwan-penemu-gaya.html


Senin, 18 Juni 2012

Jenderal Ahmad Yani


Hari ini adalah perayaan hari jadiku yang ke 24. Jadi sebagai inspirasi hidup buat diri saya pribadi  dan juga sebagai upacan terimakasih kepada teman-temanku, maka saya sengaja menuliskan (memposting) sebuah kisah dari seorang pahlawan kita yang juga tepat lahir pada tanggal 19 Juni. Sosok ini terkenal dengan wataknya yang selalu berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Yach,tak lain dan tak bukan ia adalah Jenderal Achmad Yani.
Ketika menjabat menteri/Panglima Angkatan darat (Men/Pangad), ia sangat menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiiri dari buruh dan tani. Karenanya, dengan fitnah bahwa sejumlah TNI AD telah bekerja sama dengan sebuah Negara asing untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, PKI lewat Gerakan 30 September (G 30/S) menjadikan dirinya salah satu target yang akan diculik dan dibunuh di antara 7 perwira TNI AD lainnya.
Peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 oktober 1965 dinihari itu akhirnya meneswaskan enam dari tujuh Perwira Tinggi Angakatan Darat yang sebelumnya direncanakan PKI. Lubang buaya, lokasi dimana sumur tempat menyembunyikan jenazah para Pahlawan Revolusi itu berada menjadi saksi bisu atas kekejaman komunis tersebut.
Jenderal yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno itu, merupakan salah satu tangan kanan dan keprcayaan Sang Proklamator. Ia sangat cinta dan setia terhadap Bung Karno. Karena kecintaan dan kesetiannya, ia bahkan pernah mengatakan, “Siapa yang berani menginjak bayang-bayang Bung Karno, harus terlebih dahulu melangkahi mayat saya”. Bahkan ada isu terdengar bahwa Jend.Achmad Yani telah dipersiapkan oleh Bung Karno sebagai calon penggantinya sebagai Presiden. Namun begitu, Achmad Yani tetap tidak setuju dengan konsep NASAKOM dari Soekarno. Isu dan prinsipnya itu akhirnya membuat PKI semakin benci terhadap dirinya.
Achmad Yani yang lahir di Jenan, 19 Juni 1922 ini adalah anak dari Sarjo bin Suharyo (Ayah) dan Murtini (Ibu). Pendidikan formal diawalinya di HIS (sederajat SD) Bogor, yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (sederajat SMP) kelas B, Bogor. Dari sana ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (sederajat SMA) bagian B, Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas 2, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Ia kemudian mengikuti pendidikan militer pada dinas Topografi Militer di Malang dan secara lebih intensif lagi di lanjutkan di Bogor. Dari sana ia mengawal karir militernya dengan pangkat Sersan. Kemudia setelah tahun 1942 yakni setelah pendudukan jepang di Indonesia, ia juga mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.
Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan, antara lain berhasil melucuti senjata Jepang di Magelang. Setelah tentara keamanan rakyat (TKR) terbentuk, dirinya diangkat menjadi komandan TKR Purwokerto. Selanjutnya karir militernya semakin cepat menanjak.
Prestasi lain diraihnya ketika agresi militer pertama belanda terjadi. Pasukannya beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan belanda di daerah tersebut. Maka saat agresi militer kedua belanda terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan kedu.
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk menghancurkan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang mengacau di daerah Jawa tengah. Ketika itu dibentuklah pasukan Banteng Raiders yang diberi latihan khusus. Alhasil, pasukan DI/TII pun berhasil ditumpasnya.
Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia ditarik ke Staf Angkatan darat. Pada tahun 1955, ia disekolahkan pada Command and General Staff College di Fort leaven Worth, Kansas, AS selama 9 bulan. Dan pada tahun 1956, ia juga mengikuti pendidikan selama 2 bulan pada special Warfare Course di Inggris.
Pada tahun 1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera barat, Achmad Yani yang masih berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan Operasi 17 Agustus, untuk memimpin penumpasan pemberontakan PRRI tersebut. Ia juga berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Sejak itu anamanya pun semakin cemerlang. Hingga pada tahun 1962, ia yang waktu itu berpangkat Letnan Jendral diangkat menjadi Men/Pangad menggantikan Jendral A.H Nasution yang naik jabatan mnejadi Menteri Koordinator Pertahanan keamanan?kepala staf Angakatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab).
Saat menjabat Men/Pangad itulah terjadi kejadian naas. Jenderal yang terkenal sangat anti pada ajaran komunis itu pada tanggal 1 oktober 1965 pukul 4:35 WIB, dikala subuh, diculik dan ditembak oleh PKI di depan kamar tidurnya hingga gugur. Dalam pencarian yang dipimpin oleh Soeharto yang ketika itu masih sebagai Pangkostrad, jenasahnya ditemukan di lubang buaya terkubur di salah satu sumur tua bersama enam jenasah lainnya. Jenasah Achmad Yani dimakamkan di Taman Makam pahlawan,ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya yang sebelumnya Letnan jenderal dinaikkan satu tingkat sebagai penghargaan menjadi Jenderal.
Dia gugur karena mempertahankan kesucian dasar dan falsafah negara, pancasila yang coba hendak diselewengkan komunis. Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, maka di lubang buaya, dekat sumur tua tempat jenasah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ke tujuh pahlawan revolusi yakni 6 perwira tinggi.
Peristiwa 1 Oktober 1965 tersebut kemudian telah melahirkan suatu orde dalam sejarah pasca kemerdekaan republik ini. Orde yang kemudian lebih dikenal dengan Orde Baru itu menetapkan tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Penetapan itu didasari oleh peristiwa yang terjadi pada hari dan bulan itu, dimana telah terjadi suatu usaha perongrongan Pancasila, namun berhasil digagalkan.
Belakangan setelah orde baru jatuh dan digantikan oleh orde yang disebut Orde Reformasi, peringatan hari Kesaktian Pancasila ini sepertinya mulai dilupakan. Terbukti tanggal 1 Oktober tersebut tidak lagi ditetapkan sebagai hari libur nasional sebagaimana sebelumnya.
Dalam pidato Bung Karno yang dikenal dengan "Jasmerah", Bapak Bangsa itu menyebut agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Lebih tegas disebutkan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan menghargai sejarahnya. Hendaknya begitulah yang terdapat pada bangsa ini, khususnya pada para pemimpinnya.

Baca pula:

Jumat, 16 Maret 2012

Syekh Yusuf,Sang Sufi “Al Khalwati”

Nama Syekh Yusuf tentu bukanlah sesuatu yang awam buat masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di kota Gowa dan Makassar. Meski begitu Syekh Yusuf sebenarnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan ibadah Haji.
Dalam era tahun 1660-an, Kesultanan Makassar dan Banten merupakan dua kerajaan besar di Nusantara yang menjadi musuh besar Kompeni. Makassar sebagai pelabuhan pengumpul rempah-rempah dan hasil bumi, sedangkan pelabuhan Banten merupakan tempat perdagangan internasional.
Tanggal 22 September 1644, dalam usia 18 tahun Yusuf meninggalkan negrinya menuju Mekkah dengan menumpang kapal niaga Melayu dan singgah di Banten. Pada waktu itu, Banten sedang menghadapi konfrontasi dengan Kompeni, ia tinggal di Banten selama 5 tahun, untuk belajar agama Islam. Selain itu ia juga aktif di berbagai bidang terutama membangkitkan semangat agama dan mengajak rakyat untuk berjuang melawan semua pengaruh asing.
Keinginan Yusuf untuk memperdalam ilmunya di Timur Tengah tetap terpelihara. Selama 15 tahun ia tempuh belajar di Arab Saudi. Setelah ilmunya dirasa sudah cukup, namanya diabadikan sebagai seorang Syekh. Sultan Ageng Tirtayasa mengetahui tingkat ilmu Syekh, maka dipanggilnya ke Banten untuk memperkuat jajaran kepemimpinan dalam usahan melawan Kompeni Belanda. Karena pengaruhnya, maka kerajaan Banten meningkat kewibawaannya di antara raja-raja di Nusantara pada zaman itu.
Tahun 1664, sebagai Sufi “Al Khalwati”nya Syekh Yusuf mempunyai beberapa peran, yaitu:
·         Diangkat menjadi guru putra Sultan Banten, Pangeran Gusti (Sultan Haji).
Diangkat menjadi Mufti dan penasehat raja.
·         Sebagai menantu Sultan.

Karena peran-peran tersebut, Syekh Yusuf semakin terlihat dalam situasi politik, ekonomi dan sosial serta menggalang persatuan dan kesatuan. Syekh Yusuf mempunyai kharisma, namanya semakin populer sehingga sangat disegani oleh Kompeni. Pada waktu itu orang-orang Makassar dan Bugis berguru padanya sekaligus mereka menjadi kader-kader dan komandan pasukan yang sudah terisi jiwanya dengan pengetahuan agama, cinta tanah air dan mengharamkan kerja sama dengan penjajah.
Pada bulan Maret 1682 berkecamuk perang Banten selama 6 bulan. Kompeni mengalami kerugian harta dan personil. Sejak awal perang Banten, Syekh Yusuf sangat ditakuti Kompeni, karena itu Kompeni mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menangkap Syekh Yusuf hidup atau mati akan diberikan hadiah 1000 ringgit. Tentara Kompeni di bawah pimpinan Van Happel sudah kewalahan dan hampir putus asa menghadapi Syekh Yusuf bersama pasukannya. Van Happel menempuh jalan tipu muslihat, ia datang berpakaian Arab dengan membawa serta Puteri Syekh Yusuf yang bernama Asma. Pada waktu itu Syekh Yusuf terpancing oleh bujukan Van Happel, iba hatinya ketika melihat Asma puterinya disandera.
Dengan jalan tipuan tersebut Syekh Yusuf tertangkap, kemudian dimasukkan ke penjara di Kastel Batavia.
Tanggal 12 September 1884, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon (Sri Langka) dalam usia 58 tahun, bersama dua orang istrinya dan dua orang pembantu wanita dan 12 orang santri dan beberapa orang anaknya. Bagi Kompeni penahanan terhadap Syekh Yusuf dianggap kegiatan politiknya sudah berhenti. Keahliannya dalam bidang agama Islam tidak saja bermanfaat bagi kaumnya, namun juga bagi masyarakat Budha, Syekh Yusuf mengajarkan Ilmu Syariat dan Tasawuf kepada muridnya yang datang dari India Selatan dan Ceylon (Sri Langka).
Meski Syekh Yusuf dalam pembuangan, namun kharismanya masih tetap kuat terhadap umatnya. Hal ini terbukti bahwa jemaah haji dari Hindia Timur sekembalinya dari Mekkah banyak yang singgah ke Ceylon untuk berguru dan meminta berkah selama beberapa bulan, bahkan ada yang sampai 3 bulan. Dalam kesempatan tersebut, Syekh Yusuf menyelipkan pesan-pesan politik yang maksudnya agar tetap mengadakan perlawanan terhadap Kompeni. Selain itu Syekh Yusuf juga mengirimkan surat kepada Sultan Banten, Sultan Makassar dan Karaeng Karunrung, Mangkubumi, Kerajaan Gowa untuk tetap berjuang melawan Kompeni-penjajah yang akan menghancurkan agama dan kemanusiaan.
Pengaruh dari pesan-pesan tersebut mengakibatkan timbulnya :
·         Pemberontakan haji miskin di Minangkabau pada tahun 1687.
·         Pemberontakan Sultan Abdul Jalil (Gowa) yang menuntut Benteng Ujung Pandang (Rotterdam) dikembalikan kepada Gowa.
·         Pemberontakan Sultan Banten yang menuntut agar kerja paksa bagi rakyat dihapuskan.
Kompeni tidak mengira bahwa pembuangannya ke Ceylon, ternyata tetap menjaga kharisma dan kewibawaannya yang dihormati dan dipuja.
Akibat semua itu, Syekh Yusuf mendapat hukuman mati dari VOC, namun hal itu mendapat protes dari Raja Alangkir dari India dan Raja Makassar, Abdul Jalil (1677-1709). Dengan adanya protes tersebut, hukuman mati dirubah menjadi pembuangan seumur hidup.
Tanggal 7 Juli 1693 dalam usia 68 tahun Syekh Yusuf dibuang ke Capetown (Afrika Selatan). Ia disambut baik oleh Gubernur Simon Van Stel dan dihormatinya sebagai buangan politik sebagaimana orang buangan politik sebelumnya.
Tanggal 2 April 1694, Syekh Yusuf bersama rombongan (59 orang) tiba di Kasteel Capetownn. Sholat Maghrib pertama dilakukan dalam benteng tersebut. Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam Di Afrika Selatan. Begitu juga di Ceylon. Tepat pada tanggal 23 Mei 1699 Syekh Yusuf pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Pada tahun 1995, SK Presiden RI No. 071/TK/1995 meneguhkan Syekh Yusuf Tajul Khalwati sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber:

Jumat, 10 Februari 2012

Pejuang Sosialisme di dunia Islam, DR. Ali Shariati

Ali shariati dilahirkan pada tahun 1933 di Mazinan, sebuah suburban dari Sabzevan, Iran. Ayahnya seorang pembicara nasional progresif. Ketika belajar di sekolah pendidikan keguruan, shariati berkenalan dengan orang-orang muda yang berasal dari golongan ekonomi lemah dan untuk pertama kalinya ia melihat kemiskinan serta kehidupan berat yang ada di Iran pada masa itu.
Pada saat yang sama, ia pun berkenalan dengan banyak aspek dari pemikiran filsafat dan politik barat, seperti yang tampak dari tulisan-tulisannya. Ia menjelaskan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat muslim melalui prinsip-prinsip islam tradisional, yang terjalin dan dipahami dari sudut pandang sosiologi dan filsafat modern. Pendapat Shariati sangat dipengaruhi oleh Moulana Rumi dan Muhammad Iqbal.
Ia mendapat gelar kesarjanan dari Universitas Mashad. Ia kemudian melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Paris. Di sana ia memperoleh gelar doctor dalam bidang filsafat dan sosiologi pada tahun 1964. Setelah lulus, ia kemudian kembali ke Iran. Namun, ternyata sesampainya di Iran ia langsung kekaisaran Iran yang menuduhnya terlibat dalam kegiatan-kegiatan subversive politik ketika masih di Perancis. Ia baru dilepaskan pada tahun 1965, lalu mulai mengajar di Universitas Mashhad. Kuliah-kuliahnya jadi popular di kalangan mahasiswa dari semua kelas social. Hal ini kembali mengundang tindakan oleh penguasa kekaisaran yang memaksa universitas untuk melarangnya mengajar. Shariati dianggap sebagai salah satu pemimpin filosofis paling berpengaruh dari Iran di masa pra revolusi. Pengaruh dan popularitas pemikirannya terus dirasakan di seluruh masyarakat Iran bertahun-tahun kemudian khususnya di antara mereka yang menentang rezim Republik Islam Iran. Ia terbunuh pada tanggal 19 juni 1977. Banyak spekulasi mengatakan bahwa ia dibunuh oleh agen-agen SAVAK atau para pendukung Ayatollah Khomeini yang terlalu fanatic.

Baca pula:
Ali bin Ibrahim Al-Naimi, Raja Minyak dari Negri Padang Pasir
Kahar muzakkar, pahlawan yang terkhianati
Kisah I tolok daeng maggasing, Robin hood dari tanah celebes
Petta lolo La sinrang, pendekar bugis dari tanah sawitto
Andi Abdullah Bau Massepe, Sang Letnan Muda

Jumat, 03 Februari 2012

Ali bin Ibrahim Al-Naimi, Raja Minyak dari Negri Padang Pasir

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an....
Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.
Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur" Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.
Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.
Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?
Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "SIKAP POSITIF" . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.
Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.
Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.
Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu".
Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini."
Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai di sini?
Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Tahukan kamu apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.
Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.
Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Oleh:Mubdy A.Muh.Azis I Ass. Quality & Quantity PT. Pertamina ( Persero), Terminal BBM Palopo
Baca pula:

Jumat, 27 Januari 2012

Andi Abdullah Bau Massepe, Sang Letnan Muda

Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe, lahir di Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada tahun 1918 dan wafat di Parepare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 2 Februari 1947 di usianya yang ke 29 Tahun. Beliau adalah pejuang heroik dari daerah Sulawesi Selatan. Ia merupakan Panglima pertama TRI Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jendral. Ia dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam kaitan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.
Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra dari Andi Mappanyukki yang juga salah satu pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan sedang ibunya adalah Besse Bulo, putri Raja Sidenreng di daerah Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang. Massepe dahulunya merupakan salah satu pusat kerajaan Addatuang (kerajaan Sidenreng).
Beliau adalah pewaris tahta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan Gowa. Bau Massepe merupakan anak Raja dari Kerajaan Bone yakni Andi Mappanyukki. Ia juga merupakan pewaris tahta dari lima kerajaan di sebelah barat Danau Sidenreng yaitu Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito. Karena tahtanya itulah, ia lebih dikenal dengan nama Bau Massepe. Semasa hidupnya Bau Massepe tiga kali beristri. Yaitu :
  • Istri yang pertama bernama Andi Maccaya melahirkan putri bernama Andi Habibah,
  • Istri yang kedua bernama Linge Daeng Singara melahirkan
    • seorang putra yang bernama Andi Ibrahim dan
    • seorang putri bernama Bau te’ne.
  • Pada tahun 1933 menikah dengan Andi Soji Petta Kanje’ne yang kemudian dianugerahi putra-putri yang masing-masing bernama:
    • Bau Kuneng,
    • Bau Amessangeng,
    • Bau Dala Uleng dan
    • Bau Fatimah.
Semasa hidupnya, beliau pernah mengecap pendidikan formal pada Sekolah Rakyat selama 1 tahun (1924), HIS (Hollands Inslander School (selesai 1932). Adapun jabatan (Keorganisasian) yang pernah dilakoni oleh Beliau antara lain; Datu Suppa tahun 1940, Bunken Kanrekan Parepare, Ketua Organisasi SUDARA Parepare, Ketua Pusat Keselamatan Rakyat Penasehat Pemuda/Pandu Nasional Indonesia, Ketua Umum BPRI (Badan Penunjang Republik Indonesia), Kordinator perjuangan bersenjata bagi pemuda didaerah sekitar Parepare.
Andi Abduhlah Bau Massepe, adalah seorang Asisten Residen (Bunken Kanrikan) yang dibentuk oleh Jepang ketika itu. Asisten  Residen ini membawahi lima wilayah Onder Afdeling, Parepare, Sulawesi Selatan, sebagai Kantor Pusat, Pinrang, Barru, Sidrap, dan Enrekang.
Ketika mendengar Jepang telah menyerah kepada sekutu. Andi Abdullah Bau Masepe yakin Indonesia pasti merdeka. Tiga bulan setelah Jepang menyerah, beberapa tentara Jepang (Heiho) melarikan diri ke Suppa meminta perlindungan Andi Andullah Bau Masepe. Tentara Heiho ini diterima baik oleh Andi Abdullah Bau Masepe dan menganggap mereka adalah Duta Suppa untuk dipergunakan tenaganya dalam kesatuan bersenjata.
Dr. Ratulangi mendatangi Andi Abdullah Bau Masepe untuk mengadakan dan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Perintah Dr. Ratulangi itu, disampaikan ke seluruh anggota Onder Afdeling, agar mereka membentuk PNI.  Saat itu semua rakyat yang berumur 15 tahun keatas masuk PNI yang juga merupakan orang-orang rebuliken.
Pada tanggal 21 Agustus 1945 diadakan rapat raksasa dan upacara penaikan Bendera Merah Putih di lapangan La Sinrang dengan maksud memasyarakatkan Sang Merah Putih.
Pada saat itu, Andi Abdullah Bau Massepe berpidato menyerukan agar semua rakyat mempertahankan kemerdekaan sampai tetes darah penghabisan. Pada rapat-rapat selanjutnya, Andi Bau Massepe selalu menekankan perlunya persatuan dan kesatuan untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, Andi Bau Massepe juga menyusun satu kesatuan bersenjata untuk mempertahankan Indonesia.
“Kalau perlu kita harus berkorban harta dan jiwa. Kalau kita tak dapat menikmati kemerdekaan, nanti anak cucuku kita yang menikmatinya, di Indonesia pasti mereka.” Begitu ucapan Andi Abdullah Bau Massepe ketika mengadakan pertemuan rahasia yang berlangsung di rumahnya di Majennang, yang dihadiri para pegawai swapraja Suppa dan pemuka-pemuka masyarakat Suppa. Pada rapat rahasia itu disepakati menyetujui dan mengangkat sumpah mengatakan “Polopa polopanni narekko naposiri ipomateni idi’ atae”.
Pada saat itu juga oleh Andi Abdullah Bau Massepe memerintahkan Andi Arsyad, Andi Selle’, La banggo Siradja untuk menyusun laskar BPRI guna persiapan tempur melawan NICA (Belanda) dan dibantu oleh bekas Heihodari Jepang yang melarikan diri dan berjuang untuk kemerdekaan RI. Kemudian dibentuk juga Persatuan Merah Putih. Para komandan laskar tersebut, masing-masing Andi Cammi di Sidrap dengan gelar Ganggawa, Andi Abu Bakar Masenrengpulu di Enrekang gelarnya BPRI Andi Parenrengi di Majene dengan gelar Kris Muda, Di Barru diberi gelar BPRI.
Tanggal 30 Agustus 1945, Andi Abdullah Bau Massepe bersama Andi Makkasau mengadakan demonstrasi barisan keliling kota Parepare dengan membawa bendera Merah Putih, sekitar 400 orang dari Suppa dengan menggunakan Kopiah berlambang merah putih, bergabung dengan PNI Parepare yang dipimpin oleh Usman Isa yang juga Ketua PNI Parepare. Gerakan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka siap mempertahankan kemerdekaan RI. Ketika Tentara NICA berkuasa, Andi Abdullah Bau Massepe bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.
Pasukan dibawah Komando Andi Abdullah Bau Masepe itu melakukan gerakan gerilya dan beberapa kali terjadi kontak senjata dengan tentara NICA. Untuk kebutuhan persenjataan, Andi Bau Massepe melakukan kontak dengan Juli, seorang Komandan Polisi NICA di Balikpapan (Kaltim). Juli yang juga seorang pejuang sejati itu, menyuplai ratusan senjata dan amunisi dan diselundupkan masuk melalui pelabuhan Suppa.
Rupanya gerakan perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe membuat pusing tentara NICA. Komandan Tentara NICA kemudian menemui Andi Abdullah Bau Massepe ke Kantor Swapraja di Suppa. NICA menyodorkan selembar kertas agar ditandatangani. Isi surat itu, agar Andi Abdullah Bau Massepe mau menyetujui keberadaan Belanda di wilayahnya. Tawaran itu ditolak mentah-mentah.
“Permintaan tuan tidak dapat dipenuhi. Indonesia pasti merdeka, tidak ditawar-tawar kalau perlu saya korban bersama-sama dengan rakyat di Suppa, kalau perlu korban darah dan jiwa pun saya rela dan saya tidak bisa berbicara dua kali, hanya sekali dilahirkan oleh ibu saya, tidak cukup dua kali dan berpesan lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah kembali oleh Belanda.” tegas Andi Abdullah Bau Massepe ketika itu. Perkataan itu membuat Komandan Tentara NICA marah.
Beberapa hari kemudian, tentara Belanda menangkap Andi Abdullah Bau Masepe bersama Andi Baso Daeng Erang (Sulawatang Suppa), Andi Mojong (Pabbicara Suppa) dan Syamsuddin (Juru tulis Suppa). Kelimanya ditahan Belanda di barak tentara NICA di kampung Kariango. Andi Abdullah Bau Massepe dan Andi Baso Daeng Erang wafat ditembak oleh pasukan Mayor Raymond Westerling (Korps Baret Merah Belanda) pada tanggal 2 Februari 1947 di Palia, yang lainnya ditembak mati di Suppa. Beliau wafat setelah ditahan selama 160 hari. Ia wafat 10 hari sesudah konferensi Pacekke (tanggal 20 Januari 1947). Dari perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe, lahirlah Resimen I Paccekke Brigade 16. Beliau diakui sebagai pejuang yang teguh pendirian dan berani berkorban demi tegaknya NKRI. Hal ini diakui oleh Westerling yang disampaikan kepada istrinya, A. Soji Petta Kanjenne, dia berkata; “suamimu adalah jantan dan laki-laki pemberani. Ia bertanggung jawab atas semua tindakannya, tidak mau mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri, sikap jantan ini sangat saya hormati.”
Makam beliau dapat ditemukan di Taman Makam Pahlawan kota Parepare (110 kilometer utara Kota Makassar). Penganugerahan kepada pejuang sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah adalah merupakan suatu bentuk penghargaan pemerintah kepada jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi dan semata-mata untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan dimasa yang silam adalah manifestasi bahwa bangsa kita dewasa ini meski di ronrong berbagai masalah dan polemik tetap dan tak akan lekang menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa ini, sebab Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati dan menghargai jasa pahlawannya.
Begitu pun sejarah heroik yang telah dilakoni oleh sosok Andi Abdullah Bau Massepe pejuang yang dengan begitu gigih berjuang bersama masyarakat Sulawesi Selatan dalam mengusir penjajahan dari bumi Sulawesi, yang dalam rangkaian perjalanan yang begitu panjang dan berliku dan tanpa mengenal lelah serta pengorbanan harta dan nyawa telah membawa bangsa ini ke zaman yang kita nikmati saat ini, kemerdekaan dan kebebasan.
Olehnya pemerintah pusat berkenan menganugerahkan Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe sebagai pahlawan nasional pada momen Hari Pahlawan tanggal 10 November 2005 bertempat di Istana Negara Jakarta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dihadiri segenap pejabat tinggi negara serta ahli waris, keluarga dan kerabat Andi Abdullah Bau Massepe serta masyarakat Sulawesi Selatan sendiri.
Rasa bangga dan terhormat tentu saja dirasakan oleh bukan saja keluarga dan kerabat Bau Massepe akan tetapi kebanggaan dan penghormatan tersebut juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.

Referensi:
kompasiana.com
wikipedia.org

Baca pula:

Jumat, 16 Desember 2011

Petta Lolo La SINRANG, Pendekar Bugis Dari Tanah Sawitto

Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas ke atas (bulu sussang).
Dalam lembaran sejarah, Lasinrang adalah salah seorang pejuang yang tak bisa dikalahkan Belanda selama masa penjajahan. Taktik keji Belanda-lah yang menahan ayahnya, Addatuang Sawitto, dan istrinya, I Makkanyuma, membuat Lasinrang menyerah.
Warga Pinrang mengabadikan nama Lasinrang di setiap sudut kota sebagai nama jalan, gedung olahraga, rumah sakit dan lain-lain. Bahkan patung Lasinrang berbulu emas berdiri tegak di pusat Kota Pinrang yang berjarak sekitar 185 kilometer dari Kota Makassar.
Perjalanan hidup beliau banyak mendapat bimbingan dan pendidikan dari pamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.
Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang
Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.
Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.
La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.
La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro darihasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.
Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya
La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.
Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.
Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”.
Sumber:
Ø portalbugis.wordpress.com/
Ø kampungbugis.com/